Kesiapan Mental Menuntut Ilmu Perspektif Pendidikan Nabawi

Kesiapan Mental Menuntut Ilmu

Kesiapan Mental Menuntut Ilmu Perspektif Pendidikan Nabawi, Di era modern yang penuh dengan gangguan (distraction) dan tekanan akademis, banyak pembelajar mengalami stres, kehilangan fokus, hingga kelelahan mental (burnout). Padahal, kunci utama menyerap ilmu secara optimal tidak hanya terletak pada kecerdasan intelektual (IQ), melainkan kesiapan mental dan penataan hati (tazkiyatun nufus).

Tertarik belajar dan berkolaborasi bersama Dewan Dakwah Kediri?

Mari terhubung dengan kami untuk informasi kegiatan, kajian, dan program dakwah terbaru.

💬 Chat via WhatsApp: https://wa.me/6285117845155

Jika kita merujuk pada historiografi Pendidikan Nabawi—metode pendidikan yang diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW—kesiapan mental dan niat mendahului penguasaan materi. Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan sains dan hukum agama, tetapi terlebih dahulu membangun kondisi jiwa para sahabat (Ahlu al-Shuffah) agar siap menerima cahaya ilmu.

Mengapa Kesiapan Mental Penting Sebelum Belajar?
Dalam Islam, hati (qalb) diibaratkan sebagai wadah. Jika wadah tersebut kotor atau terdistraksi oleh kecemasan dan niat yang salah, maka ilmu yang masuk tidak akan memberikan keberkahan.

Nabi Muhammad SAW mendidik para sahabat untuk membersihkan jiwa dan menata mental sebelum mempelajari Al-Qur’an dan syariat. Hasilnya, para sahabat tumbuh menjadi generasi yang kokoh secara akademis sekaligus anggun secara akhlak.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis tentang Kesiapan Mental & Keutamaan Ilmu
Pendidikan Nabawi selalu berlandaskan wahyu. Berikut adalah fondasi utama yang mendasari pentingnya kesiapan mental dan ketulusan jiwa dalam menuntut ilmu:

1. Landasan Al-Qur’an: Penyucian Jiwa Sebelum Pengajaran
Allah SWT menegaskan bahwa tugas utama Rasulullah SAW adalah menyucikan jiwa (tazkiyah) terlebih dahulu sebelum mengajarkan Kitab dan Hikmah:

QS. Al-Jumu’ah [62]: 2

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah…”

Insight Pendidikan Nabawi: Kata yuzakkihim (menyucikan mereka) didahulukan sebelum yu’allimuhum (mengajar mereka). Ini menunjukkan bahwa ketenangan dan kebersihan mental adalah syarat mutlak sebelum menyerap ilmu.

2. Landasan Hadis: Niat dan Ketenangan Jiwa
a. Meluruskan Niat untuk Mencegah Stres Mental
Niat yang keliru (seperti mengejar pujian atau sekadar gelar) sering menjadi sumber beban mental. Rasulullah SAW bersabda:

HR. Bukhari & Muslim

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”

b. Ketentraman Hati dalam Majelis Ilmu
Kesiapan mental melahirkan ketenangan jiwa (sakinah) saat berada di majelis belajar:

HR. Muslim (no. 2699)

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), mereka diliputi rahmat, dinaungi malaikat…”

Prinsip Kesiapan Mental Perspektif Pendidikan Nabawi
Untuk membangun kesiapan mental seperti para sahabat Nabi, ada beberapa prinsip utama dalam Pendidikan Nabawi yang bisa diterapkan saat ini:

1. Ikhlas dan Lillah (Menata Orientasi Diri)
Menuntut ilmu dalam perspektif Nabawi adalah bentuk ibadah. Ketika belajar diniatkan untuk ibadah dan menghilangkan kebodohan diri, beban mental berupa rasa takut gagal atau tekanan sosial akan berkurang drastis.

2. Membaca Doa dan Zikir Sebelum Belajar
Di masa Rasulullah, pembiasaan mengingat Allah (dzikrullah) adalah benteng utama dari kecemasan. Zikir menstabilkan gelombang otak dan melatih fokus (mindfulness).

Doa yang diajarkan Nabi untuk memohon ilmu yang bermanfaat sekaligus perlindungan dari jiwa yang tidak puas:

HR. Ibn Majah (no. 925)

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَرِزْقًا طَيِّبًا ، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.”

3. Memperbaiki Adab terhadap Ilmu dan Guru
Imam Malik pernah meriwayatkan nasihat ibunya: “Pelajarilah adabnya sebelum engkau mempelajari ilmunya.” Kesiapan mental ditandai dengan sikap tawaduk (rendah hati) dan siap menerima masukan.

Langkah Praktis Menerapkan Pendidikan Nabawi untuk Kesiapan Belajar Modern
Berikut panduan langkah demi langkah (step-by-step) yang bisa diterapkan oleh pelajar, mahasiswa, maupun pendidik sebelum memulai kelas:

✅Wudu dan Bersuci: Bersuci secara fisik memberikan efek relaksasi psikologis (hydrotherapy).
✅Hadirkan Niat (Reset Mindset): Luruskan niat bahwa belajar adalah jalan mendekatkan diri kepada Allah.
✅Zikir Singkat & Doa: Luangkan waktu 1–3 menit sebelum membuka buku/laptop untuk beristighfar dan membaca doa menuntut ilmu.
✅Hilangkan Distraksi: Jauhkan gadget dan hal-hal yang memicu godaan (focus environment).
✅Jaga Kesehatan Fisik: Rasulullah mengajarkan keseimbangan antara istirahat yang cukup dan aktivitas ibadah/belajar.

Kesimpulan
Kesiapan mental dalam menuntut ilmu perspektif Pendidikan Nabawi bukan sekadar kesiapan intelektual, melainkan keseimbangan antara kesucian niat, ketenangan jiwa, dan kebersihan adab.

Dengan meneladani pola pendidikan Rasulullah SAW—di mana penataan jiwa didahulukan sebelum transfer ilmu—kita tidak hanya mencetak pembelajar yang cerdas, tetapi juga pribadi yang tangguh, tenang, dan berakhlak mulia.

Artikel kami sebelumnya https://dewandakwahkediri.com/wp-admin/post.php?post=1116&action=edit

Kunjungi pasar dewan dakwah kediri

https://pasarkediri.biz.id

Pendidikan Tauhid pada Periode Makkah di Zaman Nabi Muhammad

Pendidikan Tauhid pada Periode Makkah di Zaman Nabi Muhammad

Pendidikan Tauhid pada Periode Makkah

Ingin kenal dan kepo dewan dakwah kediri lebih lengkapnya Klik WA

>>> klik wa disini <<<

Pendidikan tauhid merupakan fondasi utama dalam ajaran Islam. Sejak awal diutus sebagai rasul, Nabi Muhammad ﷺ memulai dakwahnya dengan mengajarkan keesaan Allah SWT kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak dan remaja. Pada periode Makkah (610–622 M), pendidikan tauhid menjadi fokus utama karena masyarakat Arab saat itu masih hidup dalam tradisi jahiliah yang dipenuhi penyembahan berhala, kemusyrikan, dan berbagai kebiasaan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Bagi dunia pendidikan Islam, sejarah pendidikan tauhid pada periode Makkah memberikan pelajaran yang sangat berharga. Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan konsep keimanan, tetapi juga membangun karakter generasi muda melalui keteladanan, kasih sayang, pembiasaan ibadah, dan pendidikan akhlak. Hingga kini, metode tersebut tetap relevan diterapkan dalam pendidikan anak dan remaja.

Apa Itu Pendidikan Tauhid?

Pendidikan tauhid adalah proses menanamkan keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang berhak disembah, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dalam Islam, tauhid menjadi dasar seluruh aspek kehidupan seorang muslim, mulai dari ibadah, akhlak, hingga hubungan sosial.

Pada masa Rasulullah ﷺ, pendidikan tauhid menjadi materi pertama yang diajarkan sebelum berbagai hukum syariat lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa keimanan yang kuat merupakan fondasi bagi terbentuknya pribadi muslim yang berakhlak mulia.

Allah SWT berfirman:

“Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.”
(QS. Al-Ikhlas: 1)

Ayat tersebut menjadi salah satu dasar utama pendidikan tauhid yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ kepada para sahabat, anak-anak, dan remaja.

Kondisi Masyarakat Arab Sebelum Pendidikan Tauhid

Sebelum Islam datang, masyarakat Makkah berada dalam masa yang dikenal sebagai zaman jahiliah. Sebagian besar masyarakat menyembah berhala seperti Hubal, Latta, Uzza, dan Manat. Kehidupan sosial dipenuhi peperangan antarsuku, perjudian, minuman keras, serta berbagai bentuk ketidakadilan.

Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang belum mengenal konsep tauhid. Mereka mengikuti tradisi nenek moyang tanpa memahami hakikat penyembahan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, pendidikan tauhid menjadi langkah pertama Rasulullah ﷺ untuk memperbaiki kehidupan masyarakat dari akar yang paling mendasar.

Awal Sejarah Pendidikan Tauhid pada Periode Makkah

Sejarah pendidikan tauhid dimulai ketika Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu pertama di Gua Hira melalui Malaikat Jibril. Wahyu tersebut terdapat dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 yang memerintahkan manusia untuk membaca dan menuntut ilmu.

Selama kurang lebih tiga belas tahun di Makkah, Rasulullah ﷺ memusatkan dakwah pada penguatan akidah. Ayat-ayat Al-Qur’an yang turun pada periode ini sebagian besar membahas keesaan Allah, keimanan kepada hari akhir, kisah para nabi terdahulu, serta pembentukan akhlak.

Pendidikan tauhid pada masa Makkah dilakukan secara bertahap dan penuh hikmah. Rasulullah tidak langsung mengubah seluruh tradisi masyarakat, tetapi terlebih dahulu membangun keyakinan mereka kepada Allah SWT.

Tujuan Pendidikan Tauhid bagi Anak dan Remaja

Pendidikan tauhid pada periode Makkah memiliki tujuan yang sangat jelas, yaitu membentuk generasi yang memiliki keimanan kokoh dan akhlak mulia. Anak-anak dan remaja dididik agar mengenal Allah sejak usia dini sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Beberapa tujuan pendidikan tauhid pada masa Rasulullah ﷺ meliputi:

  • Menanamkan keyakinan kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan.
  • Membersihkan akidah dari syirik dan penyembahan berhala.
  • Membentuk karakter jujur, amanah, dan bertanggung jawab.
  • Menumbuhkan keberanian membela kebenaran.
  • Mengajarkan kesabaran dalam menghadapi ujian.
  • Menumbuhkan kecintaan kepada Al-Qur’an dan ibadah.

Dengan fondasi tersebut, anak-anak dan remaja tidak hanya memahami ajaran Islam secara teoritis, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Metode Pendidikan Tauhid yang Diterapkan Nabi Muhammad ﷺ

Keberhasilan pendidikan tauhid pada periode Makkah tidak lepas dari metode pembelajaran yang digunakan Rasulullah ﷺ. Beliau mendidik dengan pendekatan yang penuh kasih sayang dan sesuai dengan kondisi peserta didik.

1. Keteladanan (Uswah Hasanah)

Metode paling efektif yang digunakan Rasulullah adalah memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menunjukkan sifat jujur, amanah, penyayang, rendah hati, dan sabar sehingga anak-anak serta remaja belajar langsung dari perilaku beliau.

2. Pembiasaan

Rasulullah membiasakan anak-anak mengingat Allah dalam setiap aktivitas. Mereka diajarkan membaca basmalah sebelum makan, mengucapkan salam, berdoa sebelum tidur, serta bersyukur atas nikmat Allah. Pembiasaan ini membentuk karakter religius sejak usia dini.

3. Dialog dan Tanya Jawab

Nabi Muhammad ﷺ sering berdialog dengan para sahabat muda. Beliau menjelaskan makna tauhid dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga mereka tidak sekadar menghafal, tetapi juga memahami alasan di balik setiap ajaran Islam.

4. Kisah Para Nabi

Al-Qur’an memuat banyak kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Musa, dan nabi lainnya sebagai media pendidikan. Melalui kisah tersebut, anak-anak belajar tentang perjuangan mempertahankan tauhid dan pentingnya menyembah Allah semata.

5. Pengulangan Ayat Al-Qur’an

Rasulullah mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an secara berulang hingga mudah dihafal. Surah-surah Makkiyah yang pendek menjadi materi utama bagi anak-anak dan remaja dalam mengenal Allah SWT.

Rumah Al-Arqam: Pusat Pendidikan Islam Pertama

Pada masa awal dakwah, Rasulullah ﷺ mengajarkan Islam secara sembunyi-sembunyi di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Tempat ini dikenal sebagai pusat pendidikan Islam pertama dalam sejarah.

Di rumah Al-Arqam, Rasulullah mengajarkan:

  • Tauhid dan akidah.
  • Hafalan Al-Qur’an.
  • Pembinaan akhlak.
  • Kesabaran menghadapi ujian.
  • Persaudaraan sesama muslim.

Banyak remaja yang belajar langsung di tempat ini, seperti Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud. Mereka kemudian menjadi tokoh penting dalam perkembangan Islam.

Pendidikan Tauhid dalam Keluarga

Selain melalui Rasulullah ﷺ, pendidikan tauhid juga berlangsung di lingkungan keluarga. Orang tua yang telah memeluk Islam berperan sebagai pendidik pertama bagi anak-anak mereka.

Materi yang diajarkan meliputi:

  • Mengenalkan Allah sebagai Pencipta.
  • Menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an.
  • Mengajarkan doa-doa harian.
  • Membiasakan ibadah.
  • Menanamkan akhlak mulia.

Dengan demikian, rumah menjadi madrasah pertama yang membentuk kepribadian anak berdasarkan nilai-nilai tauhid.

Materi Pendidikan Tauhid pada Masa Makkah

Materi pendidikan yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada anak-anak dan remaja berfokus pada pembentukan akidah dan akhlak.

Beberapa materi pokok meliputi:

  • Mengenal sifat-sifat Allah SWT.
  • Menolak segala bentuk kemusyrikan.
  • Beriman kepada hari kiamat.
  • Meyakini adanya pahala dan dosa.
  • Meneladani kisah para nabi.
  • Membiasakan kejujuran, amanah, dan kasih sayang.
  • Menanamkan kesabaran dalam menghadapi cobaan.

Materi tersebut menjadi dasar pendidikan Islam yang kemudian berkembang setelah hijrah ke Madinah.

Tantangan Pendidikan Tauhid pada Periode Makkah

Perjalanan pendidikan tauhid pada masa Makkah tidaklah mudah. Rasulullah ﷺ dan para sahabat menghadapi berbagai bentuk penolakan dari kaum Quraisy, mulai dari ejekan, tekanan sosial, pemboikotan, hingga penyiksaan.

Meskipun demikian, pendidikan tetap berlangsung secara konsisten. Rasulullah menanamkan kepada anak-anak dan remaja bahwa mempertahankan keimanan membutuhkan kesabaran, keberanian, dan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT.

Relevansi Pendidikan Tauhid untuk Anak dan Remaja Masa Kini

Di era modern, anak-anak dan remaja menghadapi tantangan yang berbeda, seperti pengaruh media digital, pergaulan bebas, serta krisis moral. Oleh karena itu, pendidikan tauhid pada periode Makkah tetap menjadi model yang relevan untuk diterapkan.

Orang tua dan pendidik dapat mengambil inspirasi dari metode Rasulullah ﷺ dengan cara:

  • Menanamkan keimanan sejak usia dini.
  • Memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Membiasakan ibadah dan doa.
  • Mengajarkan kisah para nabi sebagai media pendidikan karakter.
  • Membimbing anak dengan kasih sayang dan dialog.
  • Mengembangkan akhlak mulia seiring dengan peningkatan ilmu pengetahuan.

Pendekatan ini membantu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan berakhlak mulia.

Kesimpulan

Sejarah pendidikan tauhid pada periode Makkah menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah Nabi Muhammad ﷺ berawal dari pembinaan akidah yang kuat. Selama tiga belas tahun di Makkah, Rasulullah memfokuskan pendidikan kepada penanaman tauhid, pembentukan akhlak, dan pengembangan karakter melalui keteladanan, pembiasaan, dialog, serta pengajaran Al-Qur’an.

Anak-anak dan remaja menjadi bagian penting dari proses pendidikan tersebut karena mereka dipersiapkan sebagai generasi penerus yang menjaga dan menyebarkan ajaran Islam. Nilai-nilai pendidikan tauhid yang diterapkan Rasulullah ﷺ tetap relevan hingga saat ini dan dapat menjadi landasan dalam membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Artikel kami sebelumnya penyebab retaknya persaudaraan

Kunjungi pasar dewan dakwah kediri

pasarkediri.biz.id

PENYEBAB RETAKNYA PERSAUDARAAN

PENYEBAB RETAKNYA PERSAUDARAAN

Oleh Bahtiar Khairuddin

Dalam Islam, kebersamaan dan persaudaraan (ukhuwah) adalah pilar utama. Namun, kebersamaan tersebut dapat terhalang oleh berbagai penyakit hati dan perilaku destruktif yang merusak persatuan, seperti sifat egois (ananiyah), merasa paling benar (ta’ashub), prasangka buruk (su’udzan), serta kebiasaan menggunjing (ghibah) dan memfitnah (namimah). [1, 2]

Berikut adalah penghalang utama kebersamaan dalam Islam:

  • Egoisme (Ananiyah): Sikap mementingkan diri sendiri dan menuntut hak tanpa mau menunaikan kewajiban kepada sesama.

Egois Adalah mafhum mukhalaf dari matan hadits ini yaitu hadits di bawah ini menjelaskan bahwa mencintai dengan prilaku yang baik kepada saudara itu sepatutnya sama dengan mencintai dan berprilaku pada diri sendiri, maka ketidak pedulian terhadap orang lain dan hanya mencintai dirinya sendiri Adalah sifat buruk yang Bernama egois yang di larang menurut hadits tersebut

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Merasa Paling Benar (Al-U’jub & Ta’ashub): Kesombongan spiritual atau intelektual yang membuat seseorang memandang rendah kelompok lain dan mudah menyalahkan sesama Muslim.

Kebanggaan pada diri sendiri (ujub) oleh Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam dikategorikan dalam muhlikât (hal-hal yang membinasakan). Beliau bersabda

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ  

Artinya, “Tiga perkara yang membinasakan: 1) Rasa pelit yang ditaati, 2) Hawa nafsu yang diikuti, dan 3) Bangganya seseorang terhadap diri sendiri (ujub).” (HR. At-Thabarani).

Ketika seseorang memandang banyak amalnya sendiri, dan menganggap amal orang lain sedikit atau kalah dengannya, ia sedang berada dalam kesombongan, sebagaimana Iblis yang menolak perintah sujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalam dengan mengatakan, “Ana khairun minhu” (aku lebih baik dari Adam). Penolakan dan ucapan yang membuatnya terusir dari surga, karena di dalam surga tidak pantas ada orang yang berlaku sombong.

ta’ashshub inilah bid’ah tersebar dan merajalela di kala-ngan ummat, sehingga menghalangi sampainya petunjuk dan kebenaran kepada mereka. Karena sebab itulah mereka meninggalkan manhaj Rabbani yang agung dan petunjuk Nabawi yang lurus. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala
telah mencela orang-orang yang berpaling dari kebenaran lalu memilih taqlid dengan hujjah nenek moyang mereka. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيـْــنَا عَلَـــــيْهِ آبَـــاءَ نـــَـــا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَــيْئًا وَ لاَ يَــهْتَدُونَ . البقرة :170

“Dan apabila dikatakan kepada mereka; Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. Mereka menjawab; (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apapun dan tidak mereka mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah : 170)

  • Prasangka Buruk (Su’udzan): Selalu menaruh curiga dan pikiran negatif terhadap niat orang lain, yang pada akhirnya memicu perpecahan.

Surat Al-Hujurat ayat 12 menjelaskan tentang larangan berprasangka buruk dan mencari-cari kesalahan orang lain. Dalam ayat ini, Allah swt mengingatkan bahwa banyak prasangka dapat berujung pada dosa, yang dapat merusak hubungan antar individu. Ketika seseorang mulai mencari-cari kesalahan orang lain, maka berpotensi merusak keharmonisan sosial dan menciptakan ketidakpercayaan.  Dalam konteks ini, Allah mengajak kita untuk introspeksi dan berfokus pada memperbaiki diri daripada menghakimi orang lain. Simak firman Allah berikut:

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ ۝١٢

Artinya; “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

  • Menggunjing (Ghibah) & Mengadu Domba (Namimah): Menyebarkan aib atau membicarakan keburukan saudara sendiri di belakang mereka, serta memprovokasi antar pihak. [1]

Ghibah atau menggunjing adalah menyebutkan sesuatu  yang terdapat pada saudaranya ketika ia tidak hadir dengan sesuatu yang benar tetapi tidak disukainya

-يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٌ۬‌ۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًا‌ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُڪُمۡ أَن يَأۡڪُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتً۬ا فَكَرِهۡتُمُوهُ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ۬ رَّحِيمٌ۬ -١٢

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan prasangka karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Janganlah kamu sekalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sekalian berghibah( menggunjing) satu sama lain. Adakah seseorang di antara kamu sekalian yang suka makan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang.” [QS: 49 (al Hujurat) ayat 12.]

Namimah atau mengadu domba Adalah sebagaimana dijelaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut,

ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺃَﻻَ ﺃُﻧَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﻟْﻌَﻀْﻪُ ﻫِﻰَ ﺍﻟﻨَّﻤِﻴﻤَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺎﻟَﺔُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ».

Dari Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Muhammad berkata, “Maukah kuberitahukan kepada kalian apa itu al’adhhu ? Itulah namimah, perbuatan menyebarkan berita untuk merusak hubungan di antara sesama manusia”[1]

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa namimah bertujuan merusak hubungan manusia. Beliau berkata,

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀ : ﺍﻟﻨَّﻤِﻴﻤَﺔ ﻧَﻘْﻞ ﻛَﻠَﺎﻡِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺑَﻌْﻀِﻬِﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺑَﻌْﺾٍ ﻋَﻠَﻰ ﺟِﻬَﺔِ ﺍﻟْﺈِﻓْﺴَﺎﺩِ ﺑَﻴْﻨﻬﻢْ .

“Para ulama menjelaskan namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka.”[2]

  • Hasad (Dengki): Merasa tidak senang melihat kenikmatan atau kebahagiaan yang didapatkan oleh orang lain.

Dalam Al-Qur’an, penyakit hasad disebutkan dalam beberapa ayat. Di antaranya adalah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 54 berikut:   اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ عَلٰى مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۚ فَقَدْ اٰتَيْنَآ اٰلَ اِبْرٰهِيْمَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاٰتَيْنٰهُمْ مُّلْكًا عَظِيْمًا   Artinya: “Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah menganugerahkan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim dan Kami telah menganugerahkan kerajaan (kekuasaan) yang sangat besar kepada mereka”. (Qs. An-Nisa: 54)

Ingin tahu lebih lanjut tentang cara Islam membangun kembali persaudaraan yang retak? Silakan tanyakan strategi spesifik mengenai:

  • Cara menghindari sifat hasad dan su’udzan
  • Adab dalam menyelesaikan konflik antar sesama muslim
  • Cara menumbuhkan sikap empati dan toleransi dalam masyarakat
Copyright © 2026 Dewan Dakwah Kediri