Enam Da’i ADI Jalankan Dakwah Ramadhan 1447 H di Kabupaten Kediri

Enam Da’i ADI Jalankan Dakwah Ramadhan 1447 H di Kabupaten Kediri

Kediri, 16 Februari 2026 — Dewan Dakwah Kabupaten Kediri kembali mendapat amanah menerima kiriman da’i dari Akademi Dakwah Indonesia (ADI) dalam program kaderisasi da’i Dewan Dakwah Wilayah Jawa Timur pada Ramadhan 1447 Hijriyah. Sebanyak enam da’i muda diterjunkan untuk mengabdi di sejumlah titik wilayah Kabupaten Kediri selama satu bulan penuh.

Empat da’i laki-laki yang ditugaskan adalah Wah Wah, Ichsan, Yasin, dan Wahyu, serta dua da’iyah perempuan. Setibanya di Kediri pada 16 Februari 2026, rombongan terlebih dahulu transit di Masjid Al Hilal Ngadiluwih, salah satu masjid binaan Dewan Dakwah Kabupaten Kediri.

Continue reading →
Wakaf Produktif, Tanam 70 Pohon Pisang Cavendish di Tegalsari

Wakaf Produktif, Tanam 70 Pohon Pisang Cavendish di Tegalsari

Kediri – Biro Ekonomi Ummat Dewan Dakwah Kabupaten Kediri yang dipimpin oleh Bapak Muhammad Al Haq terus menguatkan langkah pemberdayaan ekonomi berbasis wakaf. Salah satu program unggulannya adalah penanaman 1.000 pohon pisang Cavendish di atas lahan wakaf seluas kurang lebih setengah hektar.

Tahap awal program ini dilaksanakan di lahan seluas 21 ru yang berada di Dusun Tegalsari, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Sebelumnya, pada 3 Februari 2026, para pengurus melakukan pendongkelan sisa-sisa akar rumput gajah sebagai bagian dari proses persiapan lahan agar siap ditanami.

Penanaman perdana dilaksanakan pada 5 Februari 2026 dengan jumlah 70 pohon pisang Cavendish melalui kegiatan kerja bakti pengurus Dewan Dakwah. Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB dengan pembagian tugas yang tertata rapi.

Sebagian pengurus mengambil bibit pisang di kebun milik Bapak Sujud di wilayah Badas menggunakan kendaraan viar. Tim lainnya menyiapkan makanan dan minuman untuk mendukung kelancaran kegiatan. Ada pula yang menyiapkan peralatan tanam, merapikan serta membersihkan lahan, membuat lubang tanam, hingga melakukan proses penanaman.

Alhamdulillah, berkat semangat gotong royong, penanaman 70 pohon tersebut selesai pada pukul 11.00 WIB.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Bapak Sulistiyo Budi, anggota DPRD Kabupaten Kediri dari PKS. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan agar proses penanaman disertai dengan pembacaan sholawat sebagai bentuk doa dan harapan agar tanaman tumbuh subur serta membawa keberkahan.

Senada dengan itu, Ketua Biro Ekonomi Ummat, Bapak Muhammad Al Haq, juga mengingatkan pentingnya memulai setiap kegiatan dengan berdoa kepada Allah SWT agar program wakaf produktif ini diberikan kelancaran dan hasil yang bermanfaat bagi umat.

Program ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pengelolaan wakaf yang produktif, profesional, dan berkelanjutan, sehingga mampu memperkuat kemandirian ekonomi umat di Kabupaten Kediri.

KAJIAN MUSLIMAT DEWAN DAKWAH KEDIRI

KAJIAN MUSLIMAT DEWAN DAKWAH KEDIRI

Kajian Perdana Muslimat Dewan Dakwah Kabupaten Kediri Berlangsung Khidmat dan Penuh Semangat

Kediri – Muslimat Dewan Dakwah Kabupaten Kediri menggelar kajian perdana pada Jumat, 7 November 2025, mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai. Kegiatan tersebut dilaksanakan di kediaman Ibu Nining Purwati, Pojar (Pogar), Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri.

Kajian yang dipimpin oleh Ketua Muslimat Dewan Dakwah Kabupaten Kediri, Ibu Iswanti, ini mengangkat tema “Pesona Wanita Sholehah: Cerminan Keindahan Iman dan Akhlak.” Acara menghadirkan Ustadz Bahtiar Khoiruddin sebagai pemateri utama.

Dalam sambutannya, Ibu Iswanti menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kajian perdana ini. Ia menuturkan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat pembinaan muslimah serta mempererat ukhuwah Islamiyah di wilayah Kabupaten Kediri dan sekitarnya.

“Alhamdulillah, antusiasme jamaah luar biasa. Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus istiqamah menghadirkan kajian-kajian yang bermanfaat,” ujarnya.

Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari wilayah Pare dan sekitarnya, tetapi juga dari Muslimat Dewan Dakwah Ngadiluwih dan daerah sekitar lainnya. Bahkan, sejumlah sesepuh turut hadir meski harus menempuh jarak yang cukup jauh dan dalam kondisi hujan. Semangat dan keistiqamahan mereka menjadi inspirasi tersendiri bagi seluruh jamaah yang hadir.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Bahtiar Khoiruddin menekankan bahwa wanita sholehah adalah cerminan keindahan iman dan akhlak. Ia mengajak para muslimah untuk terus memperbaiki diri, menjaga adab, memperkuat ibadah, serta menjadi teladan di tengah keluarga dan masyarakat.

Suasana kajian berlangsung khidmat, hangat, dan penuh kekeluargaan. Para peserta tampak menyimak dengan seksama dan aktif dalam sesi tanya jawab.

Dengan suksesnya kajian perdana ini, Muslimat Dewan Dakwah Kabupaten Kediri di bawah kepemimpinan Ibu Iswanti berkomitmen untuk terus mengembangkan program dakwah dan pembinaan yang memberi manfaat luas bagi umat.

RAMADHAN MASA TARBIYAH ORANG BERIMAN

RAMADHAN MASA TARBIYAH ORANG BERIMAN

Oleh Bahtiar Khoiruddin

Taqwa adalah tujuan di wajibkannya berpuasa pada bulan ramadhan


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan puasa atas kalian sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi bertakwa.” (Al-Baqarah: 183).

Taqwa adalah tujuan di wajibkannya mengikuti jalan yang lurus
Allah Ta’ala berfirman,


وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu Allah perintahkan agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153).

Taqwa adalah tujuan di wajibkannya menjauhi larangan Allah SWT
Allah Ta’ala berfirman,


تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah maka jangan kalian mendekatinya, demikianlah Allah jelaskan ayat-ayatNya kepada manusia agar semoga mereka bertakwa.” (Al-Baqoroh: 187).

Taqwa adalah tujuan di wajibkannya menjauhi ancaman Allah SWT
Dan Allah Subhanahu juga berfirman,


وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا

“Dan demikianlah kami turunkan padanya Al-Quran berbahasa Arab dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, didalamnya sebagian dari ancaman agar mereka bertakwa atau agar Al-Quran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka” (Thoha: 113)

Taqwa adalah tujuan di wajibkannya beribadah kepada Tuhan kalian


{ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ }


[Surat Al-Baqarah: 21]
Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa

Taqwa adalah tujuan di wajibkannya berpegang teguh pada apa yang Allah berikan


{ وَإِذۡ أَخَذۡنَا مِيثَٰقَكُمۡ وَرَفَعۡنَا فَوۡقَكُمُ ٱلطُّورَ خُذُواْ مَآ ءَاتَيۡنَٰكُم بِقُوَّةٖ وَٱذۡكُرُواْ مَا فِيهِ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ }


[Surat Al-Baqarah: 63]
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang telah Kami berikan kepadamu dan ingatlah apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.”

Taqwa adalah tujuan di wajibkannya qisos yang di dalamnya ada jaminan kehidupan


{ وَلَكُمۡ فِي ٱلۡقِصَاصِ حَيَوٰةٞ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ }


[Surat Al-Baqarah: 179]
Dan dalam qiṣāṣ itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa.

Sehingga kita harus belajar tentang apa saja amalan yang di lakukan oleh orang-orang bertaqwa menurut Allah SWT dan rasul-Nya di dalam Al Quran maupun hadits

Allah SWT sudah menyebutkan hal tersebut di dalam Al Qur’anul Karim yaitu dalam surat Al Baqarah ayat 177, surat Ali Imran ayat 133 -136 dan surat Azzumar ayat 33, berikut ini adalah ayat-ayat yang menyampaikan tentang amalan orang-orang yang bertaqwa :

Allah Ta’ala berfirman,


لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah termasuk kebajikan menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, akan tetapi kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan ditengah perjalanannya, dan orang yang meminta-minta dan memerdekakan budak, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang jujur (keimanannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqoroh: 177).

Dan Allah Ta’ala juga berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنْ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ * وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ * أُوْلَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka mengingat Allah kemudian memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak melanjutkan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah Ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, mereka kekal didalamnya dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal” (Ali Imran: 133-136).

{ وَٱلَّذِي جَآءَ بِٱلصِّدۡقِ وَصَدَّقَ بِهِۦٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ }


[Surat Az-Zumar: 33]
Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Nah kalau kita ingin berhasil menjadi orang yang bertaqwa dengan wasilah amal kebaikan yang ada di bulan Ramadhan, maka harus belajar tentang amalan apa saja yang oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya amalkan di dalam bulan Ramadhan, seperti membaca Al Qur’an, melaksanakan qiyamu ramadhan, memberi makan dan minum untuk berbuka buat orang-orang yang berpuasa, makan sahur, meninggalkan hal-hal yang akan membatalkan puasa termasuk hal-hal yang membuat pahala puasa jadi hilang, dan lain-lain, termasuk mengamalkan hal-hal yang manjadi kebiasaan orang-orang yang bertaqwa mengamalkan hal tersebut seperti yang terdapat dalam 3 surat di atas tadi

Mengamalkan semua kebaikan itu semua di bulan ramadhan dengan sebaik-baiknya, sampai semua amal kebaikan menjadi kebiasaan kita sampai di bulan-bulan lain setelah bulan ramadhan juga tetap mengamalkannya bahkan berubah menjadi lebih baik dari sebelum membersamai bulan suci Ramadan ini

Kalau kita sudah mengamalkan itu semua maka selanjutnya berdoalah kepada Allah SWT agar ibadah puasa dan semua amalan ibadah yang kita lakukan di bulan ramadhan itu di terima oleh Allah SWT dan semoga karena hal tersebut kita termasuk orang-orang bertaqwa menurut Allah, kemudian Allah memasukkan kita ke dalam surga Nya.


aamiin ya rabbal ‘aalamiin

AMALAN YANG MENGHILANGKAN PAHALA PUASA

AMALAN YANG MENGHILANGKAN PAHALA PUASA

Oleh Bahtiar Khoiruddin

Dalam menjalankan ibadah puasa selain harus memperhatikan keabsahannya secara fiqih, harus juga diperhatikan hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa, agar puasa yang dikerjakan berkualitas. Berkaitan hal ini ada tiga hadits shahih tentang dosa yang menghilangkan pahala puasa.

Al-Imam Nawawi mengatakan dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab bahwa kesempurnaan dan keutamaan puasa hanya akan diperoleh dengan menjaga dari perkataan yang tidak berfaidah dan perkataan yang buruk, bukan oleh sebabnya puasa menjadi batal.

Berikut ini tiga hadits yang menjadi landasannya :

Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw bersabda :

 مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ   

yang Terhalang Beda Keyakinan Artinya, “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak peduli dia telah meninggalkan makanan dan minumannya.”

Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasai dan Ibnu Majah dalam Sunannya, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak—ia berkata: “Hadits ini shahih sesuai syarat keshahihan hadits menurut standar Imam Al-Bukhari”—. Hadits ini diriwayatkan juga dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw bersabda:

   رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إلَّا السَّهَرُ

Artinya, “Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan hausnya saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malamnya saja.”

Ketiga, hadits riwayat Al-Baihaqi dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak—ia berkata: “Hadits ini shahih sesuai standar keshahihan hadits menurut Imam Muslim”—. Hadits ini diriwayatkan juga dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw bersabda : dari Menggosip Orang

  لَيْسَ الصِّيَامُ مِنْ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ فَقَطْ الصِّيَامُ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

Artinya, “Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum saja, puasa adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan keji”.

Keempat, Sebenarnya ada​ hadits lain, yaitu :

  خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ الْغِيبَةُ وَالنَّمِيمَةُ وَالْكَذِبُ وَالْقُبْلَةُ وَالْيَمِينُ الْفَاجِرَةُ

Artinya, “Lima hal yang menyebabkan batalnya puasa, yaitu: ghibah, mengadu domba, berdusta, ciuman, dan sumpah palsu.”   Namun Imam Anb​​​​​​-Nawawi menilai hadits ini adalah hadits yang batil dan tidak dapat dijadikan hujah. (Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab, [Beirut, Darul Fikr], juz VI, halaman 356).

Sederhannya, kesimpulan sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitabnya Fathul Mu’in, bahwa orang berpuasa perlu ditekankan untuk menjaga lisannya dari segala yang haram, semisal berbohong, mengunjing dan mencaci maki. Karena hal tersebut dapat menghilangkan pahala puasanya. Pendapat ini berdasarkan hadits-hadits shahih di atas dan pendapat ini merupakan pendapat Ashabus Syafi’i. Berbeda dengan Ashab Syafi’i, Imam Al-Adzra’i mengatkan bahwa seseorang yang melakukan hal tersebut ia tetap mendapatkan pahala puasanya dan baginya dosa kemaksiatannya itu. Sedangkan menurut Imam Auza’i hal tersebut dapat membatalkan puasanya, pendapat beliau ini mengqiyaskan pendapat mazhab Imam Ahmad tentang tidak sahnya shalat di tempat ghasab.

Beberapa hal yang menghilangkan pahala puasa dari penjelasan rasulullah saw dalam hadist di atas :

  1. Ghibah yaitu menceritakan aib seseorang kepada orang lain

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. [Al-Hujurat/49:12]

  • Mengadudomba di antara manusia

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut,

ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺃَﻻَ ﺃُﻧَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﻟْﻌَﻀْﻪُ ﻫِﻰَ ﺍﻟﻨَّﻤِﻴﻤَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺎﻟَﺔُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ».

Dari Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Muhammad berkata, “Maukah kuberitahukan kepada kalian apa itu al’adhhu ? Itulah namimah, perbuatan menyebarkan berita untuk merusak hubungan di antara sesama manusia”[1]

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa namimah bertujuan merusak hubungan manusia. Beliau berkata,

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀ : ﺍﻟﻨَّﻤِﻴﻤَﺔ ﻧَﻘْﻞ ﻛَﻠَﺎﻡِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺑَﻌْﻀِﻬِﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺑَﻌْﺾٍ ﻋَﻠَﻰ ﺟِﻬَﺔِ ﺍﻟْﺈِﻓْﺴَﺎﺩِ ﺑَﻴْﻨﻬﻢْ .

“Para ulama menjelaskan namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka.”[2]

  • Berbohong baik perkataan maupun perbuatan

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).’”

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (I/384); al-Bukhâri (no. 6094) dan dalam kitab al-Adabul Mufrad (no. 386);  Muslim (no. 2607 (105)); Abu Dawud (no. 4989); At-Tirmidzi (no. 1971); Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (VIII/424-425, no. 25991); Ibnu Hibban (no. 272-273-at-Ta’lîqâtul Hisân); Al-Baihaqi (X/196); Al-Baghawi (no. 3574); At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”

  • Perkataan keji seperti memfitnah ataupun mencaci maki

Allah Ta’ala juga berfirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (dizalimi). Allah itu Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’ [4]: 148)

Maksudnya, Allah Ta’ala tidak menyukai perkataan yang jelek, perkataan yang menyakiti (orang lain), kecuali bagi orang yang dizalimi. Bagi orang yang dizalimi, diperbolehkan untuk mendoakan jelek orang yang menzalimi, atau menyebutkan keburukan orang zalim tersebut.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

لا يحب الله أن يدعوَ أحدٌ على أحد، إلا أن يكون مظلومًا

“Maksudnya, Allah tidak menyukai seseorang berdoa jelek untuk orang lain, kecuali jika dia dizalimi.” [1]

  • Sumpah palsu

Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْكَبَائِرُ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ قَالَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ ثُمَّ عُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْيَمِينُ الْغَمُوسُ قُلْتُ وَمَا الْيَمِينُ الْغَمُوسُ قَالَ الَّذِي يَقْتَطِعُ مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ هُوَ فِيهَا كَاذِبٌ

Dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Seorang Arab Badui datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasûlullâh! Apakah dosa-dosa besar itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Isyrak (menyekutukan sesuatu) dengan Allâh”, dia bertanya lagi, “Kemudian apa?”, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kemudian durhaka kepada dua orang tua”, dia bertanya lagi, “Kemudian apa?”, Beliau menjawab, “Sumpah yang menjerumuskan”. Aku bertanya, “Apa sumpah yang menjerumuskan itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sumpah dusta yang menjadikan dia mengambil harta seorang Muslim”. [HR. Al-Bukhâri, no. 6255]

SAFARI DAKWAH RAMADHAN 1447 H

SAFARI DAKWAH RAMADHAN 1447 H

Ramadhan selalu menjadi momentum mempererat ukhuwah dan menguatkan syiar Islam di tengah masyarakat. Hal itu tampak dalam kegiatan Safari Dakwah Ramadhan 1447 H yang dilaksanakan oleh Pengurus Dewan Dakwah Kabupaten Kediri di Masjid Nurul Islam, Desa Kunjang, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, pada Sabtu malam (23/2).

Sejak menjelang waktu berbuka, suasana di Masjid Nurul Islam Kunjang Wates Kediri sudah dipenuhi jamaah. Sekitar 100 orang, terdiri dari tokoh masyarakat, pemuda, serta warga sekitar, hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan safari dakwah yang berlangsung penuh khidmat dan kebersamaan.

Ustadz Bahtiar sebagai ketua Dewan Dakwah Kabupaten Kediri dalam sambutannya menyampaikan bahwa Safari Dakwah Ramadhan merupakan agenda rutin untuk mempererat silaturahmi antara pengurus dewan dakwah, da’i dan masyarakat khususnya pada bulan ramadhan sekaligus menguatkan semangat ibadah di bulan suci dan semoga kedepannya dewan dakwah bisa hadir di desa atau masjid binaan setiap satu bulan sekali minimal alhamdulillah jika bisa lebih dari itu.

“Ramadhan adalah bulan tarbiyah. Melalui safari dakwah ini, kami ingin hadir lebih dekat dengan umat, membersamai masyarakat dalam ibadah dan memperkuat nilai-nilai keislaman, sekaligus kami ucapkan terimakasih pada semua teman-teman pengurus dewan dakwah dan warga yang ikut mensupport terlaksananya acara ini” ujarnya.

Kegiatan diawali dengan tausiyah menjelang berbuka puasa. Dalam ceramahnya, penceramah mengingatkan pentingnya menjaga keikhlasan dalam beramal serta memaksimalkan momentum Ramadhan untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa.

Adzan Maghrib berkumandang, jamaah pun berbuka puasa bersama dengan hidangan sederhana yang telah disiapkan oleh takmir dan warga. Kebersamaan terasa hangat, mencerminkan semangat gotong royong dan kekeluargaan yang kental di tengah masyarakat Kunjang.

Usai berbuka dan menunaikan shalat Maghrib berjamaah, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan shalat Isya dan Tarawih berjamaah. Barisan jamaah yang memenuhi saf hingga ke serambi masjid menjadi pemandangan yang menggembirakan. Sekitar 100 jamaah mengikuti shalat Tarawih dengan khusyuk, dipimpin oleh imam dari Dewan Dakwah Kabupaten Kediri.

Dalam kultum setelah Tarawih, disampaikan pesan tentang pentingnya menjaga persatuan umat dan menghidupkan masjid sebagai pusat pembinaan umat, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Takmir Masjid Nurul Islam menyampaikan apresiasi atas kunjungan safari dakwah tersebut. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bentuk sinergi antara lembaga dakwah dan masyarakat desa.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan ramah tamah di rumah Pak Takmir yang tidak jauh dari masjid. Dalam suasana santai dan penuh keakraban, pengurus Dewan Dakwah Kabupaten Kediri berdialog dengan tokoh masyarakat dan jamaah. Diskusi ringan seputar program pembinaan umat, pendidikan keagamaan, serta penguatan generasi muda menjadi topik hangat malam itu.

Safari Dakwah Ramadhan 1447 H ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan wujud nyata komitmen Dewan Dakwah Kabupaten Kediri dalam membina dan menguatkan umat hingga ke tingkat desa. Di tengah suasana Ramadhan yang penuh berkah, kebersamaan yang terjalin di Masjid Nurul Islam Kunjang Wates menjadi potret indah sinergi dakwah dan masyarakat.

WORKSHOP ADMINISTRASI DEWAN DAKWAH DI SURABAYA

WORKSHOP ADMINISTRASI DEWAN DAKWAH DI SURABAYA

Moment penting kamarin adalah mengikuti pelatihan administrasi yang diselenggarakan oleh pengurus wilayah Dewan Dakwah Jawa Timur, yang dihadiri juga sebagai pemateri utama Sekjend dewan dakwah pusat.

Copyright © 2026 Dewan Dakwah Kediri