JAGA LISAN DAN JARIMU, RAWAT HATI DAN PIKIRANMU

JAGA LISAN DAN JARIMU, RAWAT HATI DAN PIKIRANMU

Menjaga Adab Komunikasi, Membangun Kewarasan Berpikir

Oleh : Hashim TasmodinotoAda sebuah pesan sederhana yang semakin relevan di tengah kehidupan masyarakat digital: Jaga lisan dan jarimu.Pesan ini mengingatkan kita agar berhati-hati dalam berbicara maupun menuliskan sesuatu. Jangan sampai kata-kata yang keluar dari mulut dan tulisan yang lahir dari jemari justru melukai, merendahkan, menyebarkan kebencian, atau memperkeruh hubungan antarsesama.Namun, sesungguhnya ada sesuatu yang lebih mendasar dan perlu dijaga sepanjang zaman, yakni hati dan pikiran agar tetap sehat dan waras.Mengapa demikian?Karena lisan dan jari hanyalah alat untuk menyampaikan sesuatu. Sementara apa yang diucapkan dan dituliskan sering kali merupakan cerminan dari apa yang tersimpan dalam hati dan diproses oleh pikiran.Jika hati dipenuhi prasangka, pikiran dikuasai kebencian, dan nalar kehilangan kejernihan, menjaga lisan dan jari hanya akan menjadi urusan teknis. Seseorang mungkin mampu menahan kata-kata kasar, tetapi tetap memelihara kebencian. Bisa jadi tulisannya tampak santun, tetapi isinya sarat manipulasi, fitnah, dan niat merendahkan orang lain.Al-Qur’an memberikan peringatan:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ”Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12).Ayat ini mengajarkan bahwa persoalan komunikasi tidak selalu bermula dari lisan atau tulisan. Sering kali ia bermula dari prasangka yang dibiarkan tumbuh dalam hati dan pikiran.Rasulullah SAW juga mengingatkan:مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).Bahkan Al-Qur’an memberikan penegasan bahwa setiap perkataan manusia tidak luput dari pencatatan:مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ”Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18).Di tengah kehidupan bermedia sosial, kita perlu menyadari bahwa kecepatan menyampaikan pendapat tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman berpikir. Tidak semua informasi harus segera ditanggapi. Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan permusuhan. Dan tidak setiap hal yang kita yakini benar harus disampaikan dengan cara yang menyakiti orang lain.Kita membutuhkan budaya berpikir yang sehat: berani mengkritik tanpa membenci, berbeda pendapat tanpa merendahkan, mengoreksi tanpa mempermalukan, serta bersikap kritis tanpa kehilangan adab.Kita juga perlu membangun kebiasaan memeriksa kebenaran sebelum menyebarkan informasi, mempertimbangkan dampak sebelum menuliskan sesuatu, serta membuka ruang bagi pikiran yang berbeda tanpa harus kehilangan prinsip.Sebab, kedewasaan seseorang bukan hanya terlihat dari kemampuannya mengendalikan apa yang keluar dari mulut dan jemarinya, tetapi juga dari kemampuannya mengelola apa yang tumbuh di dalam hati dan pikirannya.Pada akhirnya, menjaga lisan dan jari bukan sekadar persoalan sopan santun dalam berkomunikasi. Ia merupakan bagian dari proses membangun kualitas manusia.Lisan dan jari yang terjaga akan melahirkan komunikasi yang beradab, tetapi hati dan pikiran yang sehat akan melahirkan manusia yang beradab.Peradaban tidak dimulai dari bagaimana manusia berbicara, melainkan dari bagaimana manusia berpikir, mengelola hati, dan memperlakukan sesamanya.Maka, mari kita perluas pesan itu.Jangan hanya menjaga lisan dan jari. Jagalah hati agar tidak dikuasai kebencian. Rawatlah pikiran agar tidak kehilangan kejernihan. Peliharalah akal agar tidak mudah diperbudak prasangka.Sebab, komunikasi yang santun adalah cermin adab, tetapi kejernihan hati dan pikiran adalah salah satu fondasi pembentuknya.Jaga lisan dan jarimu adalah nasihat untuk hari ini. Menjaga hati dan pikiran agar tetap waras adalah pekerjaan sepanjang hayat.Allahu a’lam.

Copyright © 2026 Dewan Dakwah Kediri