Oleh Bahtiar Khoiruddin
Makna secara bahasa :
Dalam kamus Al Mu’jam Al Wasith, ‘ied adalah suatu perkara penting atau sakit yang berulang, bisa juga sesuatu yang berulang tersebut adalah sesuatu yang dirindukan dan semacamnya. ‘Ied juga berarti setiap hari yang terdapat perayaan di dalamnya.
1. Ada yang memaknai fithri adalah Ifthor berasal dari kata ‘afthoro’ yang berarti memutuskan puasa karena melakukan pembatalnya. Jadi fithri di sini dimaksudkan dengan hari raya setelah Ramadhan, di mana seseorang sudah tidak berpuasa lagi.
Nabi Muhammad Saw mempertegas hal ini dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ
“Diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ia mengatakan: Rasulullah saw bersabda: Idulfitri adalah hari ketika orang-orang berbuka puasa dan Iduladha adalah hari ketika orang-orang menyembelih kurban.” (HR. at-Tirmidzi).
2. Ada juga yang memaknai Fithri adalah suci, idul fithri artinya Kembali suci
Idul Fitri adalah titik kulminasi dari sebuah perjalanan spiritual yang panjang yaitu suatu perjalanan menuju kesucian jiwa. Dalam perspektif teologis, Idul Fitri adalah momentum kembali kepada keadaan asal manusia, yaitu fitrah yang suci, bersih dari dosa, dan lurus dalam penghambaan kepada Allah. Dalam hadits di bawah ini rasulullah saw telah menyampaikan dengan jelas
حَدَّثَنِي أَبِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذَكَرَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَقَالَ: شَهْرٌ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ، فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Artinya: “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata: iya, ayahku telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah Saw menyebutkan bulan Ramadhan, Nabi bersabda: bulan di mana Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa di dalamnya, menyunnahkan ibadah di malam harinya. Barangsiapa berpuasa dan melaksanakan shalat pada malam harinya dengan ibadah dalam keadaan beriman dan mengharap pahala, maka ia akan keluar dari dosa-dosanya sebagaimana hari di mana ibunya melahirkannya”. (HR. Ibnu Majah)
Makna Idul Fitri menurut Imam Al-Ghazali yang pertama adalah kembali ke Fitrah (kesucian jiwa) Kata Fitri dalam Idul Fitri bisa bermakna ‘fitrah’ (kesucian). Idul Fitri adalah momen kembalinya seorang Muslim ke keadaan suci, sebagaimana bayi yang baru lahir, setelah menjalani puasa dan ibadah lainnya di Ramadan.
Ulama salaf lainnya mengatakan kepada sebagian saudaranya ketika melaksanakan shalat ‘ied di tanah lapang, “Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.” (Dibawakan oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Latho-if Al Ma’arif, hal. 373-374).
Untuk memahami Idul Fitri, kita harus terlebih dahulu memahami apa itu fitrah. Dalam Al-Qur’an, konsep ini secara eksplisit disebut dalam firman Allah:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah…” (QS. Ar-Rum: 30)
Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan kecenderungan alami untuk mengenal dan menyembah Allah. Fitrah bukan sekadar “kesucian” dalam arti moral, tetapi juga mencakup struktur dasar spiritual manusia, yaitu sebuah potensi tauhid yang melekat sejak lahir.
Dalam sebuah hadis yang sangat terkenal, Nabi Muhammad bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memperkuat bahwa fitrah adalah kondisi awal manusia yang bersih dan lurus. Namun, perjalanan hidup, lingkungan sosial, dan pilihan individu dapat mengaburkan bahkan menjauhkan manusia dari fitrah tersebut.
Dengan demikian, fitrah bukanlah sesuatu yang statis. Fitrah dapat tertutup oleh dosa, kelalaian, dan kecenderungan duniawi. Di sinilah Ramadhan hadir sebagai proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) untuk mengembalikan manusia kepada kondisi fitrahnya.
Idul Fitri tidak dapat dipisahkan dari Ramadhan. Tanpa memahami Ramadhan sebagai proses, Idul Fitri akan kehilangan maknanya sebagai hasil. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan utama puasa adalah taqwa. Dalam kerangka teologis, taqwa adalah kondisi kesadaran penuh akan kehadiran Allah yang tercermin dalam ketaatan dan pengendalian diri. Puasa melatih manusia untuk menahan diri dari hal-hal yang halal, apalagi yang haram. Puasa mengajarkan disiplin spiritual yang mendalam.
Namun, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah latihan komprehensif: menahan amarah, menjaga lisan, mengendalikan hawa nafsu, serta memperbanyak ibadah. Semua ini bertujuan untuk membersihkan hati dari kotoran spiritual.
Jika Ramadhan dijalani dengan sungguh-sungguh, maka Idul Fitri adalah “kelulusan”, yaitu sebuah tanda bahwa manusia telah berhasil melalui proses penyucian tersebut. Dalam konteks ini, Idul Fitri bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan yang lebih bersih dan lebih dekat kepada Allah.
Secara bahasa, “Idul Fitri” sering dimaknai sebagai “kembali kepada fitrah”. Namun, makna ini tidak otomatis terwujud hanya karena seseorang telah berpuasa selama sebulan, melainkan menuntut refleksi yang lebih dalam, yaitu apakah hati kita benar-benar telah berubah?
Di sinilah letak permasalahan umat modern. Idul Fitri sering direduksi menjadi perayaan sosial seperti mudik, konsumsi berlebihan, dan tradisi seremonial lainnya. Sementara itu, dimensi spiritualnya justru terpinggirkan. Padahal, jika kita kembali kepada esensi teologisnya, Idul Fitri adalah momen evaluasi karena mengajak setiap individu untuk bertanya, yaitu apakah saya menjadi pribadi yang lebih sabar? Lebih jujur? Lebih peduli? Lebih dekat kepada Allah?
Namun ada juga yang mengartikan kata fithroh (fitrah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang dalam bahasa Arab bermakna sifat asli atau watak asli, atau bermakna pula tabi’at selamat yang belum tercampur ‘aib (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, hal. 727-728).
Makna Secara Istilah
Idul Fitri adalah hari ketika kaum muslimin Kembali berbuka setelah berpuasa Ramadhan.
Kata ‘Ied’ (عيد) dalam Iedul Fithri sama sekali bukan kembali. Dalam bahasa Arab, Ied (عيد) berarti hari raya. Bentuk jamaknya a’yad (اعياد). Maka setiap agama punya Ied atau hari raya sendiri-sendiri.
Makna Idul Fitri Menurut Fikih Empat Madzhab
- Mazhab Hanafi memandang bahwa shalat Idul Fitri hukumnya wajib bagi laki-laki Muslim yang memenuhi syarat. Mazhab ini menekankan pentingnya takbir, zakat fitrah, serta pelaksanaan shalat Id sebagai syiar Islam.
- Mazhab Maliki memandang shalat Id sebagai sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan. Idul Fitri dipandang sebagai bentuk kegembiraan umat setelah menjalankan ibadah puasa.
- Mazhab Syafi’i menetapkan shalat Id sebagai sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan. Ulama Syafi’iyah juga menekankan amalan seperti mandi sebelum shalat Id, memakai pakaian terbaik, bertakbir sejak malam hari raya, dan menunaikan zakat fitrah sebelum shalat.
- Mazhab Hanbali memandang shalat Id sebagai kewajiban kolektif atau sunnah yang sangat kuat. Mazhab ini menekankan pentingnya syiar hari raya serta kepedulian sosial melalui zakat fitrah.





