ASAL USUL PENAMAAN IDUL FITRI

ASAL USUL PENAMAAN IDUL FITRI

Oleh Bahtiar Khoiruddin

Masyarakat Arab Jahiliyah telah mengenal hari raya yang diperingati dua kali dalam setahun. Sebelum Islam datang, mereka mengenal hari raya Nairuz dan Mahrajan (atau Mihrajan). (Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H] juz II, halaman 105-106).

Masyarakat memperingati dua hari raya id dalam setahun di mana kondisi cuaca, panas, dan dingin stabil. Ukuran cuaca siang dan malam pada dua hari raya ini sama saja. Hari Id Nairuz adalah awal hari di mana kedudukan matahari beralih ke titik Aries (ekuinoks vernal). Sedangkan hari id Mahrajan adalah awal hari Libra. (Syekh Nuri dan Sayyid Alwi, 1996 M/1416 H: II/106).

Pada kedua hari raya Id ini, masyarakat Arab Jahiliyah memperingatinya dengan pesta pora berbagai macam dosa dan kesenangan yang melalaikan dari ketaatan seperti minum-minuman keras, tarian perang, tarian ketangkasan, dan santapan lezat. Kemudian setelah Islam datang, Allah mengganti isi peringatan kedua hari raya masyarakat Arab dengan ekspresi kebahagiaan yang jauh dari kandungan dosa. (Syekh Nuri dan Sayyid Alwi, 1996 M/1416 H: II/105).

Hari ied adalah hari ketika kaum muslimin bergembira atas nikmat Allah SWT yang Allah anugerahkan kepada kaum muslimin. Inilah mengapa hari tersebut dinamakan dengan hari ied.

Sebagaimana keterangan yang dijelaskan oleh Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya bahwa pada hari tersebut Allah banyak memberikan kebaikan serta keluasan bagi hambanya. (Rad Al-Mukhtâr, Ibnu Abidin, 2/165)

Mulai dari dibolehkannya Kembali makan dan minum yang sebelumnya dilarang, terdapat sedekah fitri disana, makanan yang melimpah pada saat idul fitri dan lain-lainnya.  

Kaum muslimin mempunyai dua hari raya besar yaitu idul fitri dan idul adha. Dua hari tersebut adalah hari yang Allah jadikan hari besar bagi kaum muslimin sebagai ganti dari hari raya di masa jahiliyyah.

كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، قَالَ: ” كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ ‌أَبْدَلَكُمُ ‌اللَّهُ ‌بِهِمَا ‌خَيْرًا ‌مِنْهُمَا: ‌يَوْمَ الْفِطْرِ، وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Orang-orang Jahiliyah mempunyai dua hari dalam setiap tahun untuk bermain-main. Setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam datang ke Madinah, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: ‘Kalian dahulu mempunyai dua hari untuk bermain-main, sungguh Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik dari keduanya, yakni hari (raya) Fitri dan hari (raya) Adha (Kurban) ‘.” (HR. An-Nasai)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Dewan Dakwah Kediri