
Sejarah pergerakan nasional Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sosok Hadji Oemar Said (H.O.S.) Cokroaminoto dan organisasi massa pertama di Hindia Belanda, Sarekat Islam (SI). Berawal dari gerakan ekonomi lokal, Sarekat Islam di bawah kepemimpinan Cokroaminoto bertransformasi menjadi kekuatan politik terbesar yang membakar kesadaran nasionalism rakyat bumiputera.
Keberanian untuk menuntut keadilan, menentang kolonialisme, dan menyuarakan hak-hak rakyat menjadikan Sarekat Islam sebagai fondasi penting yang mengakselerasi lahirnya Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Transformasi Sarekat Islam: Dari Gerakan Ekonomi ke Wadah Politik Massa
Sarekat Islam bermula dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh H. Samanhudi di Surakarta pada tahun 1911. Tujuan awalnya adalah melindungi para pedagang batik lokal dari monopoli pedagang Tionghoa dan tekanan pemerintah kolonial Belanda.
Namun, ketika H.O.S. Cokroaminoto bergabung pada tahun 1912, nama SDI diubah menjadi Sarekat Islam. Perubahan ini bertujuan untuk memperluas jangkauan keanggotaan agar tidak terbatas pada kelompok pedagang saja, melainkan seluruh lapisan masyarakat bumiputera.
| Parameter | Sarekat Dagang Islam (SDI) | Sarekat Islam (SI) |
| Fokus Utama | Perlindungan ekonomi pedagang batik lokal | Perjuangan sosial, politik, dan hak bumiputera |
| Basis Keanggotaan | Pedagang dan pengusaha Muslim | Seluruh rakyat bumiputera lintas profesi |
| Gaya Perjuangan | Koperasi dan perlawanan ekonomi lokal | Mobilisasi massa dan pergerakan politik nasional |
H.O.S. Cokroaminoto: “Raja Jawa Tanpa Mahkota” dan Orator Pemantik Kesadaran
Cokroaminoto dikenal memiliki karisma luar biasa dan kemampuan orasi yang sanggup menggerakkan puluhan ribu massa. Pemerintah kolonial Belanda bahkan memberinya julukan “De Ongekroonde van Java” atau “Raja Jawa Tanpa Mahkota”.
Melalui mimbar-mimbar pidato dan surat kabar seperti Oetoesan Hindia, Cokroaminoto menanamkan ide-ide kritis:
- Persamaan Hak (Gelijkheid): Menolak perlakuan diskriminatif hukum kolonial yang menempatkan bumiputera di kasta terendah.
- Keberanian Moral: Mengikis mentalitas kerdil dan ketakutan rakyat terhadap pejabat Belanda maupun feodalisme lokal.
- Pentingnya Pendidikan Politik: Mengajarkan bahwa kemerdekaan dan keadilan hanya bisa diraih jika rakyat sadar akan hak-hak politiknya.
Kaitan Sarekat Islam dengan Kemerdekaan Republik Indonesia
Sarekat Islam bukan sekadar organisasi sejarah, melainkan “kawah candradimuka” yang secara langsung melahirkan gagasan dan tokoh-tokoh kunci Kemerdekaan Indonesia.
1. Gagasan Zelfbestuur (Pemerintahan Sendiri)
Pada Kongres Nasional Pertama SI tahun 1916 di Bandung, Cokroaminoto secara terbuka menyuarakan konsep Zelfbestuur—hak bagi rakyat bumiputera untuk memerintah negerinya sendiri. Ini merupakan salah satu tuntutan politik paling berani saat itu, yang menjadi cikal bakal cita-cita Indonesia merdeka.
2. Mentorship Tokoh-Tokoh Pendiri Bangsa
Rumah kediaman Cokroaminoto di Peneleh, Surabaya, menjadi tempat indekos sekaligus sekolah politik bagi pemuda-pemuda yang kelak menentukan nasib bangsa. Salah satu murid utamanya adalah Ir. Soekarno, Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia. Dari Cokroaminoto, Soekarno belajar teknik orasi, gaya kepemimpinan, dan pentingnya merangkul massa rakyat.
3. Pelopor Gerakan Massa Lintas Wilayah
Sebelum SI berdiri, pergerakan bersifat kedaerahan atau terbatas pada kaum terpelajar (elit terdidik). Sarekat Islam menjadi organisasi pertama yang berhasil menyatukan ratusan ribu hingga jutaan rakyat dari Sumatra, Jawa, hingga Sulawesi dalam satu identitas perjuangan bersama.
Warisan Pemikiran Cokroaminoto untuk Indonesia Modern
Salah satu warisan pemikiran Cokroaminoto yang paling terkenal adalah prinsip:
“Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, kepintaran-kepintaran politik.”
Prinsip ini menegaskan bahwa perjuangan mencapai kemerdekaan dan membangun bangsa harus memadukan kekuatan intelektual, moral keagamaan yang kokoh, serta kecerdasan strategi politik. Tanpa kesadaran politik yang ditanamkan oleh Cokroaminoto dan Sarekat Islam, pergerakan kemerdekaan Indonesia tidak akan memiliki basis massa yang kuat dan solid.
Pengaruh Strategis Sarekat Islam dan Cokroaminoto dalam Peta Pergerakan Nasional
Meta Deskripsi: Analisis mendalam mengenai dinamika internal Sarekat Islam, perpecahan SI Merah dan SI Putih, serta warisan strategi politik H.O.S. Cokroaminoto dalam mengawal pergerakan menuju proklamasi 1945.
Perjalanan Sarekat Islam (SI) tidak berhenti pada mobilisasi massa awal. Sebagai organisasi raksasa pertama di Hindia Belanda, SI menjadi laboratorium politik tempat bertemunya berbagai ideologi besar dunia—mulai dari Islamisme, Sosialisme, hingga Nasionalisme—yang kelak mewarnai dinamika politik Indonesia hingga pasca-kemerdekaan.
Dinamika Internal: Perpecahan SI Putih dan SI Merah
Seiring pesatnya pertumbuhan anggota, SI menghadapi tantangan penyusupan ideologi marxisme yang dibawa oleh tokoh-tokoh ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) seperti Henk Sneevliet. Pemuda-pemuda SI cabang Semarang, seperti Semaun dan Darsono, terpengaruh oleh gagasan radikal ini.
Dinamika ini menyebabkan pembelahan internal pada awal tahun 1920-an:
- Sarekat Islam Putih (Berpusat di Yogyakarta/Surabaya): Dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto dan H. Agus Salim. Berlandaskan asas Islam dan menekankan perjuangan politik yang moderat serta pembaharuan ekonomi.
- Sarekat Islam Merah (Berpusat di Semarang): Dipimpin oleh Semaun dan Darsono. Mengusung garis keras bersandarkan kelas buruh dan penolakan total terhadap kolonialisme, yang kelak berkembang menjadi Sarekat Rakyat dan cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI).
| Aspek Perbandingan | Sarekat Islam Putih | Sarekat Islam Merah |
| Landasan Ideologi | Islam & Nasionalisme Sosial | Marxisme / Sosialisme Radikal |
| Tokoh Utama | H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus Salim | Semaun, Darsono |
| Strategi Perjuangan | Disiplin partai, edukasi politik, aksi parlemen (Volksraad) | Aksi mogok buruh, perlawanan kelas konfrontatif |
| Bentuk Akhir | Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) | Partai Komunis Indonesia (PKI) / Sarekat Rakyat |
Untuk menjaga keutuhan organisasi, Cokroaminoto dan Agus Salim memberlakukan Disiplin Partai pada Kongres SI 1921. Kebijakan ini melarang anggota memiliki keanggotaan ganda di organisasi lain, yang secara resmi memisahkan faksi Merah dari kubu SI utama.
Taktik Non-Kooperatif dan Transformasi Menjadi PSII
Setelah fase perpecahan dan meningkatnya represi dari pemerintah kolonial pasca-1926, Cokroaminoto mengubah haluan politiknya menjadi non-kooperatif terhadap pemerintah Belanda.
- Penolakan Kursi Volksraad: SI menolak menempatkan wakilnya di Dewan Rakyat (Volksraad) buatan Belanda karena menganggap dewan tersebut hanya alat propaganda kolonial tanpa kekuatan legislatif sejati.
- Perubahan Nama Menjadi PSII (1929): Sarekat Islam bertransformasi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Perubahan ini mempertegas tujuan akhir perjuangan: kemerdekaan penuh bagi bangsa Indonesia secara mandiri tanpa menggantungkan nasib pada janji kolonial.
Sintesis Ideologi: Pengaruh Cokroaminoto terhadap Tiga Pilar Indonesia
Salah satu kontribusi intelektual terbesar Cokroaminoto adalah buku karyanya yang monumental, Islam dan Sosialisme (1924). Dalam karya ini, Cokroaminoto membuktikan bahwa nilai-nilai keadilan sosial, kesetaraan, dan pembelaan terhadap rakyat kecil (wong kecil) yang diusung oleh sosialisme sejatinya sudah terkandung dalam ajaran Islam.
Gagasan sintesis ini menginspirasi murid-muridnya di Peneleh, Surabaya:
- Ir. Soekarno menyerap ajaran sintesis ini dan melahirkannya kembali dalam konsep Marhaenisme serta integrasi Nasionalisme, Agama, dan Komunisme/Sosialisme (Nasakom/Pancasila).
- Semaoen mengambil faksi perjuangan kelas.
- Kartosoewirjo berfokus pada penerapan syariat Islam secara utuh.
Meskipun murid-murid Cokroaminoto kemudian memilih jalan politik yang berbeda-beda, semuanya berangkat dari satu titik temu yang sama: keinginan untuk merobohkan tatanan kolonialisme Belanda.
Kesimpulan: Warisan Abadi untuk Proklamasi 1945
Tanpa keberanian H.O.S. Cokroaminoto dan pergerakan massal Sarekat Islam di era 1910–1920-an, kesadaran politik rakyat bumiputera mungkin akan memakan waktu jauh lebih lama untuk bangkit.
Sarekat Islam berhasil mendobrak tembok ketakutan rakyat, mentransformasi resistensi lokal menjadi gerakan nasional, serta menyediakan wadah penggemblengan bagi para proklamator bangsa. Fondasi yang diletakkan oleh Cokroaminoto inilah yang akhirnya mematangkan kondisi politik tanah air hingga Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia berhasil dikumandangkan pada 17 Agustus 1945.
Artikel kami sebelumnya
https://dewandakwahkediri.com/2026/08/12/kh-ahmad-dahlan-perjuangan-pendidikan-pembaharuan-umat/
Kunjungi Pasar Dewan Dakwah Kediri




