Bahaya Perundungan Verbal di Sekolah: Mengapa Pelajar SMA Kediri Memilih Bisu?

Bahaya Perundungan Verbal di Sekolah: Mengapa Pelajar SMA Kediri Memilih Bisu?

Perundungan verbal di sekolah sering kali dianggap sepele karena tidak meninggalkan bekas luka fisik, padahal dampaknya sangat berbahaya bagi kesehatan mental siswa. Kata-kata kasar, ejekan fisik, atau sindiran yang dikemas sebagai “candaan khas remaja” kerap terdengar di koridor sekolah.

Perundungan verbal (verbal bullying) di lingkungan sekolah sering kali dianggap sepele karena tidak meninggalkan bekas luka fisik. Kata-kata kasar, ejekan fisik, atau sindiran yang dikemas sebagai “candaan khas remaja” kerap terdengar di koridor sekolah.

Di Kota dan Kabupaten Kediri, fenomena perundungan verbal pada tingkat SMA menjadi isu kesehatan mental yang serius. Sayangnya, mayoritas korban memilih diam daripada melapor. Mengapa pelajar SMA di Kediri cenderung membisu saat mengalami perundungan verbal, dan apa dampaknya bagi masa depan mereka?

Dampak Bahaya Perundungan Verbal bagi Kesehatan Mental Remaja

Banyak yang tidak menyadari bahwa dampak ucapan negatif dapat membekas hingga dewasa. Dampak psikologis akibat verbal bullying meliputi:

  • Krisis Kepercayaan Diri: Korban mulai mempercayai ejekan yang mereka terima sehingga merasa tidak berharga.
  • Kecemasan Sosial (Social Anxiety): Ketakutan akan dipermalukan membuat siswa menarik diri dari pergaulan dan kegiatan ekstrakurikuler.
  • Penurunan Prestasi Akademik: Kehilangan fokus belajar karena tekanan mental yang terus-menerus.
  • Depresi hingga Risiko Self-Harm: Beban emosional yang dipendam sendiri dapat memicu gangguan mental berat.

Mengapa Pelajar SMA di Kediri Memilih Bisu?

Berdasarkan dinamika sosial masyarakat dan lingkungan sekolah di Kediri, ada beberapa alasan utama yang membuat siswa enggan bersuara:

1. Stigma “Baperan” dan Kurang Iman

Masyarakat lokal kerap menganggap masalah emosional sebagai tanda lemahnya mental atau kurangnya ibadah. Ketika remaja mengeluhkan ucapan temannya, respon yang sering diterima adalah “Ah, gitu aja baper” atau “Kurang shalat itu”. Stigma ini memutus keinginan korban untuk terbuka.

2. Takut Menjadi Sasaran Perundungan Lanjutan

Melaporkan tindakan perundungan kerap dianggap sebagai aksi “pengadu”. Korban khawatir akan diintimidasi lebih parah oleh pelaku atau dikucilkan oleh lingkungan pertemanan.

3. Minimnya Ruang Aman di Sekolah

Meski setiap SMA memiliki layanan Bimbingan Konseling (BK), sebagian siswa masih merasa ragu terhadap kerahasiaan aduan mereka. Ada kekhawatiran bahwa laporan tersebut justru akan sampai ke telinga guru lain atau orang tua tanpa penanganan yang tepat.

Pandangan Islam: Larangan Jalbu Stigma dan Ejekan Verbal

Kediri yang dikenal sebagai kota santri memiliki landasan nilai keagamaan yang kuat. Dalam ajaran Islam, perundungan verbal dilarang keras.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11 yang melarang suatu kaum untuk mengolok-olok kaum yang lain. Islam menekankan bahwa menjaga lisan (hifzhul lisan) adalah bagian dari keimanan.

Memahami isu kesehatan mental bukan berarti mengabaikan agama. Sebaliknya, Islam mengajarkan empati, mendukung sesama yang tertindas, serta mendorong ikhtiar medis dan psikologis untuk penyembuhan jiwa.

Solusi: Memutus Rantai Bisu Perundungan di Kediri

Untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman di Kediri, diperlukan sinergi dari berbagai pihak:

  • Pemerintah & Dinas Kesehatan: Mengoptimalkan program skrining kesehatan mental berkala di SMA serta menyediakan akses konseling yang mudah melalui Puskesmas.
  • Pihak Sekolah: Memperkuat peran guru BK sebagai ruang aman yang menjamin kerahasiaan siswa, serta menerapkan aturan tegas anti-perundungan.
  • Orang Tua: Membangun komunikasi dua arah tanpa menghakimi, sehingga anak merasa aman untuk bercerita di rumah.

Langkah Praktis Remaja Kediri Menghadapi Perundungan Verbal

Bagi kamu yang saat ini sedang berada di posisi korban atau menyaksikan tindakan verbal bullying di sekolah, ada beberapa langkah nyata yang bisa diambil untuk melindungi diri dan sesama:

1. Bangun Batasan (Self-Boundary) dan Validasi Emosi

Sadari bahwa ucapan negatif dari pelaku perundungan tidak mendefinisikan siapa dirimu. Merasa sedih, marah, atau kecewa adalah hal yang valid. Jangan ragu untuk menegaskan batasan dengan menolak candaan yang sudah melampaui batas secara tenang namun tegas.

2. Dokumen dan Catat Rekam Kejadian

Catat tanggal, waktu, lokasi, serta bentuk ejekan yang diterima. Jika perundungan terjadi secara daring (cyberbullying), simpan tangkapan layar (screenshot) sebagai bukti autentik jika kamu memutuskan untuk melapor kelak.

3. Cari Support System yang Aman

Temukan setidaknya satu orang yang bisa dipercaya—entah itu sahabat di sekolah, guru BK yang suportif, atau orang tua. Membagikan beban emosional kepada orang yang tepat dapat mengurangi risiko depresi secara signifikan.

Peran Teman Sebaya: Menjadi Upstander, Bukan Sekadar Bystander

Sering kali, saksi (bystander) perundungan di SMA memilih diam karena takut ikut diserang. Padahal, peran kawan sebaya sangat krusial dalam memutus mata rantai bullying:

  • Hentikan Gelak Tawa: Tidak tertawa saat ada teman yang diejek sudah cukup untuk meruntuhkan kepuasan pelaku bullying.
  • Rangkul Korban: Tanyakan kabar korban setelah kejadian dan hadir sebagai pendengar tanpa menghakimi.
  • Laporkan Secara Anonim: Jika sekolah menyediakan kotak aduan atau jalur pelaporan rahasia, manfaatkan sarana tersebut untuk membantu temanmu.

Artikel kami sebelumnya

https://dewandakwahkediri.com/2026/09/09/pergaulan-bebas-remaja-kediri/

Kunjungi Pasar Dewan Dakwah Kediri

https://pasarkediri.biz.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Dewan Dakwah Kediri