Udhiyah pada hari nahr (Idul Adha) disyariatkan berdasarkan beberapa dalil, di antaranya,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2).
Di antara tafsiran ayat ini adalah “berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)”.
Tafsiran ini diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu ‘Abbas, juga menjadi pendapat ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas) ulama.[1]
Surat As Shoffat Ayat 102 – 111
فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ # وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ # َدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ#
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ # وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ # وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ # سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ # كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ # ِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ
“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).” [1, 2, 3].
“Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim!” [1]
“Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” [1, 2]
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” [1, 2]
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [1]
“Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,” [1]
“(yaitu) “Selamat sejahtera bagi Ibrahim.” [1, 2]
“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” [1, 2]
“Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” [1]
Dari sunnah terdapat riwayat dari Anas bin Malik, ia berkata,
ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ
“Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor kambing kibasy putih yang telah tumbuh tanduknya. Anas berkata : “Aku melihat beliau menyembelih dua ekor kambing tersebut dengan tangan beliau sendiri. Aku melihat beliau menginjak kakinya di pangkal leher kambing itu. Beliau membaca basmalah dan takbir” (HR. Bukhari no. 5558 dan Muslim no. 1966).
Kaum muslimin pun bersepakat (berijma’) akan disyari’atkannya udhiyah.[2]
Udhiyah disyari’atkan pada tahun 2 Hijriyah. Tahun tersebut adalah tahun di mana disyari’atkannya shalat ‘iedain (Idul Fithri dan Idul Adha), juga tahun disyari’atkannya zakat maal.[3]





