KAPAN LAILATUL QADAR ITU TERJADI …?

KAPAN LAILATUL QADAR ITU TERJADI …?

Oleh Bahtiar Khoiruddin

Sudah dijelaskan diatas berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Nabi yang shahih bahwa Lailatul Qadr terjadi pada satu malam saja dari bulan Ramadhan pada setiap tahunnya, akan tetapi tidak dapat dipastikan kapan terjadinya, Dan hal ini ada hikmahnya, sesuai dengan hadits yang telah lalu dalam Shahih al-Bukhari (2023) dari Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “… dan mudah-mudahan hal itu lebih baik untuk kalian…”.

Sehingga Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quranil Azhim (8/451) berkata, “Maksudnya adalah ketidaktahuan kalian terhadap kapan terjadinya Lailatul Qadr itu lebih baik bagi kalian, karena hal itu membuat orang-orang yang betul-betul ingin mendapatkannya akan berusaha dengan bersungguh-sungguh beribadah di setiap kemungkinan waktu terjadinya Lailatul Qadr tersebut, maka dia akan lebih banyak melakukan ibadah-ibadah. Lain halnya jika waktu Lailatul Qadr sudah diketahui, kesungguhan pun akan berkurang dan dia akan beribadah pada waktu malam itu saja”]. Sehingga banyak sekali hadits-hadits dan atsar-atsar yang menerangkan waktu-waktu malam yang mungkin terjadi padanya Lailatul Qadr[21.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (852 H) dalam kitabnya Fat-hul Bari (4/262-266) membawakan lebih dari empat puluh lima pendapat ulama yang berkaitan dengan keterangan kemungkinan waktu-waktu terjadinya Lailatul Qadr]. Di antara waktu-waktu yang di terangkan hadits-hadits dan atsar-atsar tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Pada malam pertama di bulan Ramadhan. Imam Ibnu Katsir rahimahullah (774 H) berkata, “Ini dihikayatkan dari Abu Razin al-‘Uqaili radhiallahu’anhu, seorang sahabat”[22. Tafsir al-Quranil Azhim (8/447). Dan kami tidak mendapatkan atsar yang menerangkan hal ini, kecuali apa yang telah dinukilkan oleh alHafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fat-hul Bari (4/263) dari Ibnu Abi Ashim, dari Anas, beliau berkata, Lailatul Qadr adalah malam pertama di bulan Ramadhan”].
  2. Pada malam ke tujuh belas di bulan Ramadhan. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dalam hal ini Abu Dawud telah meriwayatkan hadits marfu’[23. Hadits marfu’ adalah hadits yang disandarkan kepada Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan, ataupun sifat beliau] dari Ibnu Mas’ud, juga diriwayatkan dengan mauquf[24. Hadits mauquf adalah hadits yang disandarkan kepada seorang sahabat Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, atau pernyataan] darinya, Zaid bin Arqam, dan Utsman bin Abi Al ‘Ash [25. Sunan Abi Dawud (1384). Dan Imam al-Albani rahimahullah (1420 H) mendha’ifkan hadits ini dalam kitabnya Dha’if Abi Dawud al-Umm (2/65-66)]. Dan ini adalah salah satu perkataan Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, juga dihikayatkan dari al-Hasan al-Bashri. Mereka semua beralasan karena (malam ke tujuh belas Ramadhan adalah) malam (terjadinya) perang Badr, yang terjadi pada malam Jum’at, malam yang ke tujuh belas dari bulan Ramadhan, dan di pagi harinya (terjadilah) perang Badr, itulah hari yang Allah katakan dalam firman-Nya: “… Di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan…” (QS. al-Anfaal: 41)[26. Lihat Tafsir al-Quranil Azhim (8/447)].
  3. Pada malam ke sembilan belas di bulan Ramadhan. Pendapat ini dihikayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum[27. Lihat Tafsir al-Quranil Azhim (8/447) dan Fat-hul Bari (4/263)].
  1. Pada malam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَان

Artinya: “Carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, carilah pada malam-malam ganjil.” (HR. Bukhari no. 2027 dan Muslim no. 1167).

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالْتَمِسُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ

Carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, carilah pada malam-malam ganjil.” (HR. Bukhari, no. 2027 dan Muslim, no. 1167)

Lailatul qadar itu jatuh pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan pada malam-malam ganjil seperti di sebutkan pada dua hadits diatas yaitu pada malam ke 21, 23, 25, 27 dan 29

Begitu juga menurut Imam Al-Ghazali, sebagaimana disebut dalam I’anatut Thalibin, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadhan:

    قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر  فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين أو الخميس فهي ليلة خمس وعشرين أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة 1. 

Artinya   Dari penjelasan Imam Ghazali, disebutkan bahwa:

1. Jika awalnya jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29, 2. Jika awalnya jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21, 3. Jika awalnya jatuh pada hari Selasa atau Jum’at maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27, 4. Jika awalnya jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25, 5. Jika awalnya jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23

Syekh Abul Hasan As-Syadzili, mengikuti panduan dari Imam Ghazali ini. Ia mengatakan,” “Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah meleset dari jadwal atau kaidah tersebut.”

  1. Pada malam ke dua puluh satu di bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu’anhu, beliau berkata:

اعتكَف رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عشرَ الأُوَلِ من رمضانَ، واعتكفْنا معَه، فأتاه جبريلُ فقال : إن الذي تطلُبُ أمامَك، فاعتكَف العشرَ الأوسَطَ فاعتكَفْنا معَه، فأتاه جبريلُ فقال : إن الذي تطلُبُ أمامَك، قام النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ؟طيبًا، صبيحةَ عِشرينَ من رمضانَ، فقال : مَن كان اعتكَف معَ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فليَرجِعْ، فإني أُريتُ ليلةَ القدْرِ وإني نُسِّيتُها وإنها في العشرِ الأواخِرِ، وفي وِترٍ، وإني رأيتُ كأني أسجدُ في طينٍ وماءٍ . وكان سقفُ المسجدِ جريدَ النخلِ، وما نرى في السماءِ شيئًا، فجاءتْ قزَعةٌ فأُمطِرْنا، فصلَّى بنا النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم حتى رأيتُ أثرَ الطينِ والماءِ . على جبهةِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وأرنبتِه، تصديقَ رؤياه

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melakukan i’tikaf pada sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan, dan kami pun melakukan i’tikaf bersamanya. Lalu Jibril datang dan berkata, “Sesungguhnya apa yang engkau minta (cari) ada di depanmu”, lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah pada pagi hari yang ke dua puluh di bulan Ramadhan dan bersabda, “Barangsiapa yang i’tikaf bersama Nabi, maka kembalilah (untuk melakukan i’tikaf)! Karena sesungguhnya aku telah diperlihatkan Lailatul Qadr, dan aku sudah lupa. Lailatul Qadr akan terjadi pada sepuluh hari terakhir pada (malam) ganjilnya, dan aku sudah bermimpi bahwa aku bersujud di atas tanah dan air”. Dan saat itu atap masjid (terbuat dari) pelepah daun pohon kurma, dan kami tidak melihat sesuatupun di langit, lalu tiba-tiba muncul awan dan kami pun dituruni hujan. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam shalat bersama kami sampai-sampai aku melihat bekas tanah dan air yang melekat di dahi dan ujung hidung beliau sebagai bukti benarnya mimpi beliau[28. HR al-Bukhari (813), Muslim (1167), dan lain-lain]. Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Hadits ini adalah riwayat paling shahih”[29. Lihat Tafsir al-Quranil Azhim (8/447)].

  1. Pada malam ke dua puluh tiga di bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abdullah bin Unais radhiallahu’anhu, beliau berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

أريتُ ليلةَ القدرِ ثم أُنسيتُها . وأراني صُبحَها أسجدُ في ماءٍ وطينٍ . قال : فمُطِرْنا ليلةَ ثلاثٍ وعشرين فصلى بنا رسولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلم . فانصرفَ وإن أثرَ الماءِ والطينِ على جبهتِه وأنفِه . قال : وكان عبدُاللهِ بنِ أنيسٍ يقولُ : ثلاثَ وعشرين

Aku telah diperlihatkan Lailatul Qadr kemudian aku dibuat lupa, dan aku bermimpi bahwa aku bersujud di atas tanah dan air”. Maka kami dituruni hujan pada malam yang ke dua puluh tiga. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam shalat bersama kami kemudian beliau pergi sedangkan bekas air dan tanah masih melekat pada dahi dan hidungnya. Dan Abdullah bin Unais radhiallahu’anhua berkata, “Dua puluh tiga”.[30. HR Muslim (1167) dan lain-lain]

  1. Pada malam ke dua puluh lima di bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhuma, beliau berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

التمِسوها في العشرِ الأواخرِ من رمضانَ، ليلةَ القدرِ، في تاسِعةٍ تَبقى، في سابِعةٍ تَبقى، في خامِسةٍ تَبقى

Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, pada malam yang ke sembilan tersisa, malam yang ke tujuh tersisa, malam yang ke lima tersisa”[33. HR al-Bukhari (2021), Abu Dawud (1381), dan lain-lain].

  1. Pada malam ke dua puluh tujuh di bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang di keluarkan oleh Imam Muslim dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu’anhu: Dari ‘Abdah dan Ashim bin Abi An Nujud, mereka mendengar Zirr bin Hubaisy berkata,

سألتُ أُبيَّ بنَ كعبٍ رضيَ اللهُ عنه . فقلتُ : إنَّ أخاك ابنَ مسعوٍد يقول : من يَقُمِ الحولَ يُصِبْ ليلةَ القدرِ . فقال : رحمه اللهُ ! أراد أن لا يتَّكِلَ الناسُ . أما إنه قد علم أنها في رمضانَ . وأنها في العشرِ الأواخرِ . وأنها ليلةُ سبعٍ وعشرين . ثم حلف لا يَستثنى . أنها ليلةُ سبعٍ وعشرين . فقلتُ : بأيِّ شيءٍ تقول ذلك ؟ يا أبا المُنذرِ ! قال : بالعلامةِ ، أو بالآيةِ التي أخبرنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أنها تطلع يومئذٍ ، لا شعاعَ لها

“Aku pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, aku berkata, sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas’ud berkata, barangsiapa mendirikan shalat malam selama setahun pasti akan mendapatkan Lailatul Qadr”, Ubay bin Ka’ab berkata, “Semoga Allah merahmatinya, beliau bermaksud agar orang-orang tidak bersandar (pada malam tertentu untuk mendapatkan Lailatul Qadr), walaupun beliau sudah tahu bahwa malam Lailatul Qadr itu di bulan Ramadhan, dan terdapat pada sepuluh malam terakhir, dan pada malam yang ke dua puluh tujuh”. Kemudian Ubay bin Ka’ab bersumpah tanpa istitsnaa’[34. Bersumpah tanpa istitsnaa’ adalah bersumpah dengan tidak menyebutkan kata “Insya Allah” setelahnya], dan yakin bahwa malam itu adalah malam yang ke dua puluh tujuh. Aku (Zirr) berkata, “Dengan apa (sehingga) engkau berkata demikian wahai Abul Mundzir?[35. Abul Mundzir adalah kun-yah Ubay bin Ka’ab. Lihat Taqribut Tahdzib, halaman 120]” Beliau berkata, “Dengan tanda yang pernah Rasulullah kabarkan kepada kami, yaitu matahari terbit pada pagi harinya tanpa sinar yang terik.”[36. HR Muslim (762), Abu Dawud (1378), at-Tirmidzi (793 dan 3351), dan lain-lain].

Demikian pula ditunjukkan oleh hadits Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu:

أن رجالًا من أصحابِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أُرُوا ليلةَ القدرِ في المنامِ في السبعِ الأواخرِ، فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : ( أَرَى رؤياكم قد تواطَأَتْ في السبعِ الأواخرِ، فمَن كان مُتَحَرِّيها فلْيَتَحَرَّها في السبعِ الأواخرِ )

Dari Ibnu Umar, bahwa beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam diperlihatkan (bermimpi) Lailatul Qadr pada tujuh malam terakhir, lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Aku kira mimpi kalian telah bersesuaian pada tujuh malam terakhir, maka barang siapa yang ingin mendapatkannya, carilah pada tujuh malam terakhir tersebut”[37. HR Muslim (1165), dan lain-lain].

Demikian pula hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda tentang Lailatul Qadr:

ليلة القدر ليلة سبع وعشرين

Lailatul Qadr pada malam ke dua puluh tujuh“[38. HR Abu Dawud (1386) dan lain-lain. Dan Hadits ini dishahihkan Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ (1240)].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dan pendapat yang menyatakan bahwa Lailatul Qadr adalah malam ke dua puluh tujuh merupakan pendapat sebagian ulama salaf, dan madzhab Ahmad bin Hanbal, dan riwayat dari Abi Hanifah. Juga telah dihikayatkan dari sebagian salaf, mereka berusaha mencocokkan malam Lailatul Qadr dengan karena kata ini adalah kata yang ke dua puluh tujuh dari malam yang ke dua puluh tujuh dengan firman Allah: (َهي), surat al-Qadr. Wallahu A’lam”[39. Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim (8/448). Dikatakan pula bahwa kata (َليلة القدر) ada sembilan huruf, dan kata ini terdapat dalam surat al-Qadr sebanyak tiga kali pengulangan, maka jumlah keseluruhan hurufnya ada dua puluh tujuh. Dan itulah malam Lailatul Qadr. Lihat pula Adhwa’ al-Bayan (9/37)].

  1. Pada malam ke dua puluh Sembilan atau malam terakhir di bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, berkata:

أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ قالَ في ليلةِ القدرِ إنَّها ليلةٌ سابعةٌ أو تاسعةٌ وعشرينَ إنَّ الملائكةَ تلكَ اللَّيلةَ في الأرضِ أكثرُ من عددِ الحصى

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda tentang Lailatul Qadr, “Sesungguhnya malam itu malam yang ke dua puluh tujuh atau ke dua puluh sembilan, sesungguhnya malaikat pada malam itu lebih banyak dari jumlah butiran kerikil”[40. HR Ahmad (16/428 nomor 10734), dan lain-lain. Dan hadits ini dihasankan oleh Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ (5473), dan Silsilatul Ahadits ash-Shahihah (5/240 nomor 2205)].

Juga dalam hadits Ubadah bin Shamit radhiallahu’anhu, beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang Lailatul Qadr, maka beliau bersabda:

في رمضانَ فالتمِسوها في العشرِ الأواخرِ فإنَّها في وِترٍ في إحدَى وعشرين أو ثلاثٍ وعشرين أو خمسٍ وعشرين أو سبعٍ وعشرين أو تسعٍ وعشرين أو في آخرِ ليلةٍ فمن قامها ابتغاءَها إيمانًا واحتسابًا ثمَّ وُفِّقتْ له غُفِر له ما تقدَّم من ذنبِه وما تأخَّر

Di bulan Ramadhan, maka carilah ia pada sepuluh malam terakhir, karena malam itu terjadi pada malam-malam ganjil, pada malam ke dua puluh satu, atau dua puluh tiga, atau dua puluh lima, atau dua puluh tujuh, atau dua puluh sembilan, atau pada akhir malam bulan Ramadhan. Maka barangsiapa menghidupkan malam itu untuk mendapatkannya dengan penuh pengharapan kepada Allah kemudian dia mendapatkannya, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang“[41. HR Ahmad (37/386-387, 406). Hadits ini dinyatakan hasan oleh para pentahqiq Musnad al-Imam Ahmad].

Pada malam terakhir di bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Ubadah bin Ash Shamit a di atas, dan hadits Abu Bakrah radhiallahu’anhu, beliau berkata:

ما أنا بمُلتَمِسِها لشيءٍ سمعتُهُ مِن رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وعلَى آلِه وسلَّمَ إلَّا في العَشرِ الأواخرِ فإنِّي سمعتُهُ يقولُ التَمِسوها في تِسعٍ يبقَينَ أو سَبعٍ يبقَينَ أو خَمسٍ يبقَينَ أو ثلاثٍ أو آخرِ ليلةٍ . قال : وَكانَ أبو بَكرةَ يصلِّي في العشرينَ مِن رمضانَ كصلاتِهِ في سائرِ السَّنةِ فإذا دخلَ العشرُ اجتَهَدَ

“Tidaklah aku mencari malam Lailatul Qadr dengan suatu apapun yang aku dengarkan dari Rasulullah melainkan pada sepuluh malam terakhir, karena sesungguhnya aku mendengarkan beliau berkata, “Carilah malam itu pada sembilan malam yang tersisa (di bulan Ramadhan), atau tujuh malam yang tersisa, atau lima malam yang tersisa, atau tiga malam yang tersisa, atau pada malam terakhir”. Dan Abu Bakrah shalat pada dua puluh hari pertama di bulan Ramadhan seperti shalat-shalat beliau pada waktu-waktu lain dalam setahun, tapi apabila masuk pada sepuluh malam terakhir, beliau bersungguh-sungguh[42. HR at-Tirmidzi (794) dan lain-lain. Dan hadits ini dishahihkan Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ (1243)].

Dan demikian hadits yang serupa telah diriwayatkan dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu[43. HR Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (3/330 nomor 2189). Dan hadits ini dishahihkan Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ (1238)].

Inilah waktu-waktu yang diterangkan dari berbagai macam sumber dari kitab-kitab tafsir maupun hadits. Dan jika kita perhatikan kembali, banyak hadits-hadits shahih yang menerangkan bahwa kemungkinan terbesar terjadinya Lailatul Qadr adalah di malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, dan terutama pada malam yang ke dua puluh satu dan dua puluh tujuh.

Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Dan tidak pernah ada ketentuan atau pembatasan yang memastikan kapan terjadinya malam Lailatul Qadr pada bulan Ramadhan. Dan ulama telah banyak membawakan pendapat dan nash-nash (keterangan) yang berkaitan dengan kemungkinan terjadinya malam Lailatul Qadr. Di antara perkataan (para ulama) tersebut adalah ada yang sangat umum, bahwa Lailatul Qadr mungkin terjadi pada setahun penuh. Akan tetapi ini tidak mengandung hal yang baru. Dan perkataan ini dinisbatkan kepada Ibnu Mas’ud. Namun, sebetulnya maksud beliau adalah (agar manusia) bersungguh-sungguh (dalam mencarinya). Ada pula yang mengatakan bahwa malam itu (mungkin) terjadi pada bulan Ramadhan seluruhnya. Dan (mereka) berdalil dengan keumuman nash-nash al-Quran. Ada pula yang berkata bahwa malam itu mungkin terjadi pada sepuluh malam terakhir, dan ini lebih khusus dari pendapat sebelumnya. Dan ada yang berpendapat bahwa malam itu terjadi pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir tersebut. Maka, dari sini ada yang berpendapat pada malam ke dua puluh satu, ke dua puluh tiga, ke dua puluh lima, ke dua puluh tujuh, ke dua puluh sembilan, dan malam terakhir; sesuai dengan masing-masing nash yang menunjukkan terjadinya Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil tersebut. Akan tetapi, pendapat yang paling masyhur dan shahih (dari nash-nash tersebut) adalah pada malam ke dua puluh tujuh dan dua puluh satu. Dengan demikian, apabila seluruh nash (dalil) yang menerangkan bahwa Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil tersebut semuanya shahih, maka besar kemungkinan malam Lailatul Qadr terjadi pada malam-malam ganjil tersebut. Dan bukan berarti malam Lailatul Qadr tersebut tidak berpindah-pindah, akan tetapi (ada kemungkinan) dalam tahun ini terjadi pada malam ke dua puluh satu, dan pada tahun lain yang berikutnya terjadi pada malam ke dua puluh lima atau dua puluh tujuh, dan pada tahun yang lainnya lagi terjadi pada malam ke dua puluh tiga atau dua puluh sembilan, dan begitulah seterusnya. Wallahu A’lam[44. Adhwa’ al-Bayan (9/35-36) dengan sedikit peringkasan. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya pula, “Apakah malam lailatul qadar tertentu pada satu malam? Ataukah berpindah-pindah (berubah-ubah pada setiap tahunnya) dari satu malam ke malam yang lainnya?” Maka beliau pun menjawab dengan jawaban yang serupa dengan perkatan Syaikh asy-Syinqithi rahimahullah dalam tafsirnya tersebut, yaitu berpindah-pindah dan berubah-ubah pada setiap tahunnya. Wallahu A’lam. Lihat Tafsir al-Quranil Azhim (8/450) dan Majmu’ Fatawa Lajnah Da’imah (14/228-229)].

  1. Pada malam ke dua puluh empat di bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

ليلة القدر ليلة أربع وعشرين

Lailatul Qadr malam yang ke dua puluh empat”[31. HR ath-Thayalisi di dalam Musnad-nya (1/288) dan Ahmad dalam Musnad-nya pula (39/323). Imam Ibnu Katsir rahimahullah di dalam Tafsir al-Quranil Azhim (8/447) mengomentari hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thayalisi, “sanadnya (terdiri dari) para perawi tsiqat (kuat)”. Namun setelah beliau membawakan pula hadits serupa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, beliau pun berkata, “Pada sanadnya terdapat Ibnu Lahi’ah, dan dia dha’if (lemah). Hadits ini tidak sesuai dengan apa yang telah diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Ashbagh, dari Ibnu Wahb, dari ‘Amr bin Al Harits, dari Yazid bin Abi Habib, dari Abul Khair, dari Abu Abdillah ash-Shunaabihi, ia berkata, ‘Bilal seorang muaddzin Rasulullah telah memberitahu kepadaku bahwa Lailatul Qadr dimulai malam ke tujuh dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Maka hadits yang mauquf ini lebih sah. Wallahu A’lam”. Dan hadits ini pun dinyatakan dha’if (lemah) sanadnya oleh para pentahqiq Musnad al-Imam Ahmad. Demikian pula Imam al-Albani rahimahullah (1420 H) mendha’ifkan hadits ini dalam kitabnya Dha’iful Jami’ (4957)].

Pendapat ini telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir, al-Hasan, Qatadah, Abdullah bin Wahb. Mereka mengatakan bahwa Lailatul Qadr terjadi pada malam yang ke dua puluh empat [32. Lihat Tafsir al-Quranil Azhim (8/448). Lihat juga tafsir beliau pada surat al-Baqarah ayat 185 (1/505)].

KEISTIMEWAAN MALAM LAILATUL QADAR

KEISTIMEWAAN MALAM LAILATUL QADAR

Oleh Bahtiar Khoiruddin

  1. Para malaikat turun membersamai orang yang menghidupkan malam tersebut

{ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ }

[Surat Al-Qadar: 4]

Pada malam itu turun para malaikat dan Rūh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.

Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) menjelaskan ayat keempat ini: “Banyaknya malaikat yang turun pada malam Lailatul Qadr, karena banyak keberkahan. Turunnya malaikat bersamaan dengan turunnya barakah dan rahmat, seperti turunnya malaikat saat pembacaan Al-Qur’an. Mereka mengepung halaqah orang-orang yang sedang berdzikir. Mereka meletakkan sayap-sayapnya kepada para pencari ilmu dengan bersungguh-sungguh sebagai penghormatan kepadanya.”

Imam Al-Qurthubi (wafat 671 H) menafsirkan ayat “tanazzalul-malā`ikatu”: yakni Malaikat dari seluruh langit dan Sidratil Muntaha turun. Mereka semua turun ke bumi dan mengaminkan doa-doa manusia yang sedang dipanjatkan sampai terbitnya fajar.

Syekh Ali As-Shabuni (wafat 2021) menafsirkan ayat 4 ini: para Malaikat dan Jibril turun ke bumi di malam tersebut dengan membawa urusan Tuhan yang telah dipastikan dan ditetapkan untuk manusia dari malam tersebut sampai tahun berikutnya.” (Muhammad Ali As-Shabuni, Shafwatut Tafasir, [Kairo, Darus Shabuni: 1997 M/1417 H], juz III, halaman 558).

  • Malam itu adalah malam keselamatan, Allah turunkan keberkahan, rahmat dan pencatatan taqdir baik untuk mereka yang meraihnya

{ سَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ }

[Surat Al-Qadar: 5]

Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

Lalu apa makna (سَلَامٌ) dalam ayat ini ?

Sebagian ulama mengatakan maknanya adalah kesejahteraan padanya dalam segala urusan.

Sebagian lagi mengatakan maknanya adalah keselamatan, sehingga pada malam tersebut setan tidak mampu berbuat keburukan atau tidak mampu mengganggu. Ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Mujahid.

Asy Sya’bi mengatakan makna (سَلَامٌ) adalah salam para malaikat kepada Ahli Mesjid hingga terbit fajar.

Qatadah dan Ibnu Zaid mengatakan makna (سَلَامٌ) adalah semua kebaikan sehingga tidak ada keburukan padanya hingga terbit fajar

LAILATUL QADAR ITU MALAM PENUH BERKAH

LAILATUL QADAR ITU MALAM PENUH BERKAH

Oleh Bahtiar Khoiruddin

عَنْ أَبِي هُريرة قَالَ: لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قد جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهَرٌ مُبَارَكٌ

dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa ketika Ramadan tiba, Rasulullah Saw. bersabda: Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah

Keberkahan bulan ramadhan salah satunya ada pada malam lailatul qadar terdapat di 10 terakhir bulan ramadhan

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.

Allah Swt. menceritakan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an di malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh dengan keberkahan, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

إِنَّا أَنْزَلْناهُ فِي لَيْلَةٍ مُبارَكَةٍ

sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati. (Ad-Dukhan: 3)

Yaitu Lailatul Qadaryangterletakdi dalam bulan Ramadan, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan)Al-Qur’an. (Al-Baqarah: 185)

Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa Allah Swt. menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauh Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit yang terdekat. Kemudian diturunkan secara terpisah-pisah sesuai dengan kejadian-kejadian dalam masa dua puluh tiga tahun kepada Rasulullah Saw.

Kemudian Allah Swt. berfirman, mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang dikhususkan oleh Allah Swt. sebagai malam diturunkan-Nya Al-Qur’an di dalamnya. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

{وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ}

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 2-3)

Menurut Imam Ibnu Katsir rahimahullah ; Maksudnya, lebih baik daripada lelaki itu menyandang senjatanya selama seribu bulan dalam berjihad di jalan Allah.

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Hakkam ibnu Muslim, dari Al-Musanna ibnus Sabbah, dari

Mujahid yang mengatakan ; bahwa dahulu di kalangan kaum Bani Israil terdapat seorang lelaki yang malam harinya melakukan qiyam hingga pagi hari, kemudian di siang harinya ia berjihad di jalan Allah hingga petang hari. Dia mengerjakan amalan ini selama seribu bulan, maka Allah menurunkan firman-Nya: Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 3) Yakni melakukan qiyam di malam kemuliaan itu lebih baik daripada amalan laki-laki Bani Israil itu.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Maslamah ibnu Ali, dari Ali ibnu Urwah yang mengatakan ; bahwa di suatu hari Rasulullah Saw. menceritakan tentang kisah empat orang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil (di masa lalu); mereka menyembah Allah selama delapan puluh tahun tanpa melakukan kedurhakaan kepada-Nya barang sekejap mata pun. Beliau Saw. menyebutkan nama mereka, yaitu Ayyub, Zakaria, Hizkil ibnul Ajuz, dan Yusya’ ibnu Nun.

Ali ibnu Urwah melanjutkan kisahnya ; bahwa lalu para sahabat Rasulullah Saw. merasa kagum dengan amalan mereka. Maka datanglah Jibril kepada Nabi Saw. dan berkata, “Hai Muhammad, umatmu merasa kagum dengan ibadah mereka selama delapan puluh tahun itu tanpa berbuat durhaka barang sekejap mata pun. Sesungguhnya Allah Swt. telah menurunkan hal yang lebih baik daripada itu.”

Kemudian Malaikat Jibril a.s. membacakan kepadanya firman Allah Swt.: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 1 -3)

Ini lebih baik daripada apa yang engkau dan umatmu kagumi. Maka bergembiralah karenanya Rasulullah Saw. dan orang-orang yang bersamanya saat itu.

Sufyan As-Sauri mengatakan ; bahwa telah sampai kepadaku dari Mujahid sehubungan dengan malam penuh berkah lebih baik daripada seribu bulan. Bahwa amalan, puasa, dan qiyamnya lebih baik daripada melakukan hal yang sama dalam seribu bulan. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zaidah, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid yang mengatakan ; bahwa malam penuh berkah lebih baik daripada seribu bulan yang di dalam bulan-bulannya tidak terdapat malam Lailatul Qadar.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah ibnu Di’amah dan Imam Syafii serta yang lainnya yang bukan hanya seorang. Amr ibnu Qais Al-Mala’i telah mengatakan ; bahwa melakukan suatu amalan di malam penuh berkah itu lebih baik daripada melakukan amalan selama seribu bulan.

Dan pendapat yang menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar itu lebih afdal daripada melakukan ibadah selama seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadar, merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, dan pendapat inilah yang benar, bukan yang lainnya.

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MASJID DZIKRULLAH

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MASJID DZIKRULLAH

Safari Ramadhan Dewan Da’wah Kediri Menyapa Warga Lereng Wilis di Dusun Karangdoro

Kediri – Perjalanan Safari Ramadhan Dewan Da’wah Kabupaten Kediri pada Ahad sore, 15 Maret 2026, membawa rombongan menuju Dusun Karangdoro, Desa Pamongan, Kecamatan Mojo, sebuah kawasan yang berada di lereng Gunung Wilis. Perjalanan menuju lokasi cukup menantang, menyusuri jalan aspal yang mulai rusak, menanjak dan berkelok di antara perbukitan hijau yang menyuguhkan pemandangan alam yang asri.

Udara pegunungan yang sejuk dan murni menyambut kedatangan rombongan dakwah yang sore itu hadir untuk bersilaturahmi sekaligus menyemarakkan bulan suci Ramadhan bersama masyarakat setempat.

Tepat pukul 17.00 WIB, rangkaian kegiatan dimulai dan dibuka langsung oleh Ust. Bangun, seorang da’i Dewan Da’wah Jawa Timur yang telah lama mengabdikan dirinya di wilayah tersebut. Sejak ditugaskan pada tahun 2009, Ust. Bangun dikenal sebagai sosok dai yang mampu membaur dengan masyarakat melalui pendekatan dakwah kultural.

Tidak hanya berdakwah melalui ceramah, beliau juga menjadi bagian dari kehidupan warga setempat, bahkan mempersunting warga Karangdoro sebagai pendamping hidupnya. Kehadiran beliau selama belasan tahun di lereng Wilis menjadi bukti nyata dedikasi dakwah yang berkelanjutan.

Dalam membuka acara, Ust. Bangun menyampaikan sambutan menggunakan Bahasa Jawa halus, dengan gaya tutur yang santun dan penuh penghormatan, menyerupai tradisi nemokne manten. Cara penyampaian yang hangat tersebut membuat suasana menjadi syahdu dan sangat menyentuh hati para jamaah yang hadir.

Karena waktu Maghrib yang semakin dekat, kajian kemudian dilanjutkan oleh Ust. Sigit Subantoro, yang memberikan tausiyah singkat namun penuh makna. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya memaksimalkan ibadah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Menurutnya, meskipun warga tinggal di kawasan pegunungan yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, kesempatan untuk meraih Lailatul Qadar tetap terbuka luas bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.

“Jangan sampai semangat ibadah kita justru menurun ketika Ramadhan hampir berakhir. Justru di sepuluh malam terakhir inilah peluang terbesar Allah berikan kepada hamba-Nya,” pesan Ust. Sigit kepada jamaah.

Kehadiran rombongan Dewan Da’wah Kediri dalam Safari Ramadhan kali ini dipimpin langsung oleh jajaran pengurus yang datang untuk mempererat silaturahmi sekaligus memberikan dukungan moral bagi dakwah di wilayah lereng Wilis.

Kehadiran para pengurus tersebut bukan sekadar kunjungan formal, melainkan bentuk dukungan nyata bagi perjuangan dakwah yang telah lama dijalankan oleh Ust. Bangun bersama masyarakat Karangdoro.

Di tengah medan jalan yang menanjak dan kondisi infrastruktur yang belum sempurna, kegiatan Safari Ramadhan ini menjadi simbol bahwa dakwah tidak hanya hadir di pusat kota, tetapi juga menjangkau daerah-daerah terpencil hingga lereng pegunungan.

Bagi warga Dusun Karangdoro, kunjungan ini menjadi penguat semangat bahwa di tengah kesederhanaan dan keterbatasan, cahaya iman tetap dapat bersinar terang.

Semoga kebersamaan dalam Safari Ramadhan ini menjadi amal kebaikan dan Allah mempertemukan kembali dalam Ramadhan di tahun-tahun mendatang.

Aamiin.

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MASJID AS SALAM

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MASJID AS SALAM

Safari Ramadhan 1447 H Dewan Dakwah Kabupaten Kediri Digelar di Masjid As Salam Ringinsari

Kediri – Dewan Dakwah Kabupaten Kediri menggelar kegiatan Safari Ramadhan 1447 H pada Minggu, 15 Maret 2026 di Masjid As Salam, Desa Ringinsari, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Kegiatan yang dimulai pukul 17.00 WIB ini dihadiri oleh pengurus Dewan Dakwah, takmir masjid, anak-anak TPQ binaan Dewan Dakwah, serta masyarakat sekitar.

Acara diawali dengan pembukaan yang dibawakan oleh Yasin, seorang da’i dari Akademi Dakwah Indonesia (ADI). Pembukaan berlangsung dengan suasana khidmat dan menjadi awal dari rangkaian kegiatan Safari Ramadhan yang bertujuan mempererat ukhuwah serta meningkatkan semangat ibadah masyarakat di bulan suci.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan Qiroatul Qur’an yang dibacakan secara bersama-sama oleh anak-anak TPQ. Lantunan ayat suci Al-Qur’an dari para santri tersebut menambah suasana religius sekaligus menunjukkan semangat generasi muda dalam mempelajari Al-Qur’an.

Memasuki acara berikutnya, sambutan dari pengurus Dewan Dakwah Kabupaten Kediri disampaikan oleh Puguh Santoso, yang menjabat sebagai Sekretaris Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Kabupaten Kediri. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan sejarah singkat berdirinya Dewan Dakwah, sekaligus memperkenalkan tokoh pendiri organisasi tersebut serta menjelaskan peran Dewan Dakwah dalam membina umat dan mengembangkan kegiatan dakwah di tengah masyarakat.

Acara inti diisi dengan ceramah agama yang disampaikan oleh Ustadz Bahtiar Khoiruddin. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan tentang amalan-amalan istimewa di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ia mengajak jamaah untuk meningkatkan kualitas ibadah seperti memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, serta memperbanyak sedekah sebagai upaya meraih keberkahan Lailatul Qadar.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama antara pengurus Dewan Dakwah Kabupaten Kediri, takmir Masjid As Salam, anak-anak TPQ binaan Dewan Dakwah, serta masyarakat sekitar.

Setelah pelaksanaan shalat Maghrib berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian santunan kepada anak yatim, dhuafa, dan fakir miskin sebagai bentuk kepedulian sosial dan upaya memperkuat solidaritas umat di bulan suci Ramadhan.

Kegiatan Safari Ramadhan ini diharapkan dapat mempererat silaturahmi antara Dewan Dakwah dan masyarakat sekaligus menumbuhkan semangat berbagi dan meningkatkan kualitas ibadah di bulan Ramadhan.

RAMADHAN BERBAGI 1447 H

RAMADHAN BERBAGI 1447 H

Masjid Al Hilal Ngadiluwih Gelar Kegiatan “Ramadhan Berbagi” 1447 H

Kediri — Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan 1447 H / 2026 M, Masjid Al Hilal yang beralamat di Jalan Lumpang Kenteng, Desa Rembangkepuh, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri menggelar kegiatan sosial bertajuk “Ramadhan Berbagi” pada Sabtu, 14 Maret 2026.

Masjid yang berada di bawah naungan Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Kabupaten Kediri ini menyalurkan berbagai bentuk bantuan kepada masyarakat dan para pegiat dakwah di lingkungan masjid. Dalam kegiatan tersebut, panitia membagikan 300 paket sembako, memberikan santunan kepada 6 anak yatim, serta menyerahkan 44 hadiah kepada imam dan pengurus masjid, tenaga pengajar PaudQu, serta para Ustadz dan Ustadzah TPA dan Taman Lansia.

Kegiatan dimulai sejak pukul 08.00 WIB dengan susunan acara yang berlangsung khidmat dan tertib. Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh santri TPA Al Hilal, kemudian sambutan dari takmir masjid serta sambutan pengurus Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia Kabupaten Kediri yang disampaikan oleh Ustadz Sigit Subiyantoro. Selanjutnya doa dipimpin oleh Ustadz Mubin, dilanjutkan penutup dan prosesi pembagian bantuan kepada para penerima.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh pengurus Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia Kabupaten Kediri, Laznas, serta Muslimat Dewan Dakwah Kabupaten Kediri. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar dan penuh kebersamaan. 🤝

Selain kegiatan tersebut, selama bulan suci Ramadhan Masjid Al Hilal setiap hari juga menyediakan hidangan berbuka puasa (ifthar) bagi jamaah masjid dan jamaah kajian. Takjil dan makanan berbuka yang dibagikan mencapai tidak kurang dari 150 porsi setiap hari. Pada malam-malam i’tikaf, panitia juga menyediakan makan sahur bagi jamaah yang beribadah di masjid. 🍽️

Program “Ramadhan Berbagi” ini telah menjadi kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun sejak Masjid Al Hilal berdiri pada tahun 2021, sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.

Semoga kegiatan ini membawa keberkahan dan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat.

Fii ridhallah wa barokatuhu.

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MUSHOLLA AL HILAL

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MUSHOLLA AL HILAL

Safari Ramadhan 1447 H Dewan Da’wah Kabupaten Kediri Digelar di Mushala Al-Hilal, Jamaah Tetap Antusias Meski Diguyur Gerimis

Kediri, 8 Maret 2026 — Semangat syiar Islam tetap membara meski langit Kediri berselimut mendung. Dewan Da’wah Kediri kembali melaksanakan agenda Safari Ramadhan 1447 H pada Ahad (8/3/2026) yang bertempat di Mushala Al-Hilal, Dusun Baran, Desa Maesan, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

Mushala Al-Hilal memiliki nilai historis dan kedekatan emosional dengan Dewan Da’wah Kediri. Tanah tempat mushala berdiri merupakan wakaf dari keluarga Bapak Thohir Sanusi, yang juga dikenal sebagai salah satu pengurus aktif Dewan Da’wah Kediri.

Kegiatan dimulai pukul 16.30 WIB. Meski cuaca mendung disertai hujan rintik-rintik, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat jamaah untuk hadir memadati mushala mengikuti rangkaian kegiatan Safari Ramadhan.

Acara dipandu dengan khidmat oleh Ust. Rofiq selaku pembawa acara. Sambutan pertama disampaikan oleh Pak Yai Sopingi, yang menyampaikan rasa syukur serta terima kasih kepada rombongan Dewan Da’wah Kediri atas kunjungan dan silaturahmi yang terjalin dengan masyarakat Dusun Baran.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ust. Sigit Subiantoro, Wakil Ketua Dewan Da’wah Kediri. Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan peran strategis Dewan Da’wah dalam pembinaan umat di wilayah Kediri, sekaligus menginformasikan jumlah masjid dan mushala yang saat ini berada dalam binaan lembaga tersebut.

Sebagai bentuk kepedulian sosial, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa, yang diserahkan langsung oleh Ust. Sigit Subiantoro kepada para penerima.

Memasuki acara inti, Ust. Mubin menyampaikan kajian rohani menjelang waktu berbuka puasa. Dalam tausiyahnya, ia menekankan dua poin penting, yaitu keutamaan shalat Tarawih sebagai sarana penggugur dosa, serta pentingnya memaksimalkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk meraih kemuliaan Lailatul Qadar.

Para jamaah tampak antusias menyimak setiap nasihat dan ilmu yang disampaikan. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa di dalam Mushala Al-Hilal sepanjang kegiatan berlangsung.

Rangkaian acara kemudian ditutup saat adzan Maghrib berkumandang, yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama antara jamaah dan pengurus Dewan Da’wah Kediri. Kebersamaan tersebut menjadi simbol kuatnya ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat Kecamatan Mojo.

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MUSHOLLA AR RAUDHOH

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MUSHOLLA AR RAUDHOH

Safari Dakwah Dewan Dakwah Kabupaten Kediri di Musholla Ar Raudhoh Berlangsung Khidmat

KEDIRI – Kegiatan Safari Dakwah Ramadhan yang diselenggarakan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kabupaten Kediri berlangsung khidmat pada Ahad, 8 Maret 2026 di Musholla Ar Raudhoh, Tambakrejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Acara dimulai pukul 17.00 WIB dan dihadiri sekitar 100 jamaah dari warga sekitar musholla.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh pembawa acara, Bapak Tauhid. Selanjutnya, pembacaan Kalam Ilahi disampaikan oleh Ustadz Zaky yang menambah kekhusyukan suasana menjelang waktu berbuka.

Memasuki sesi sambutan, sambutan pertama disampaikan oleh Takmir Musholla Ar Raudhoh, Bapak Nur Rokani. Dalam sambutannya beliau menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Dewan Dakwah yang sejak awal telah membantu proses pendirian musholla tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa keberadaan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di musholla ini turut mendapat dukungan dari ADI (Akademi Dakwah Indonesia). Bahkan hingga saat ini masih terdapat pengabdian dari para kader ADI yang berkontribusi dalam kegiatan dakwah dan pendidikan di lingkungan tersebut. Jajaran takmir pun mengaku senang atas kunjungan pengurus Dewan Dakwah Kabupaten Kediri dalam kegiatan safari Ramadhan ini.

Sambutan kedua disampaikan oleh Ketua Dewan Dakwah Kabupaten Kediri, Ustadz Bahtiar Khoiruddin. Dalam kesempatan tersebut beliau memperkenalkan secara singkat tentang Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia kepada masyarakat yang hadir. Ia menjelaskan bahwa Dewan Dakwah didirikan oleh tokoh nasional sekaligus ulama besar, Mohammad Natsir, yang pernah menjabat sebagai menteri pada masa Presiden Soekarno.

Acara dilanjutkan dengan ceramah agama yang disampaikan oleh Ustadz Slamet Mintoadi. Dalam tausiyahnya beliau menekankan pentingnya dakwah serta metodologi yang tepat dalam menyampaikan dakwah kepada masyarakat. Ia merujuk pada firman Allah dalam Surat An-Nahl ayat 125, yang menjelaskan bahwa dakwah dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, serta dialog atau diskusi dengan cara yang santun.

Kegiatan kemudian ditutup dengan suasana penuh kebersamaan. Pengurus takmir, pengurus Dewan Dakwah Kabupaten Kediri, serta warga sekitar Musholla Ar Raudhoh mengikuti acara Safari Ramadhan ini dengan antusias dan penuh kekeluargaan. Musholla Ar Raudhoh sendiri diketahui merupakan milik keluarga besar Bapak Tom Mas’udi, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dewan Dakwah Wilayah Jawa Timur.

Kegiatan ini diharapkan semakin mempererat ukhuwah Islamiyah serta memperkuat semangat dakwah di tengah masyarakat.

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MASJID AL KAUTSAR

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MASJID AL KAUTSAR

Safari Dakwah Ramadhan Dewan Dakwah Kabupaten Kediri di Masjid Al Kautsar Pare

Kediri – Dewan Dakwah Kabupaten Kediri menggelar kegiatan Safari Dakwah Ramadhan pada Sabtu (7/3/2026) di Masjid Al Kautsar, yang berlokasi di Jl. Iswahyudi, Dusun Templek, Desa Darungan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Kegiatan yang dimulai pukul 17.00 WIB ini dihadiri sekitar 80 jamaah yang terdiri dari pengurus Dewan Dakwah Kabupaten Kediri, takmir Masjid Al Kautsar, serta warga sekitar.

Acara diawali dengan pembukaan yang disampaikan oleh Bapak Tauhid selaku perwakilan Bidang Dakwah Dewan Dakwah Kabupaten Kediri. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kegiatan Safari Dakwah Ramadhan merupakan bagian dari upaya mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus meningkatkan semangat ibadah masyarakat selama bulan suci Ramadhan.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Alfin, seorang da’i dari ADI (Akademi Dakwah Indonesia) Jawa Timur. Lantunan ayat suci Al-Qur’an tersebut menambah kekhusyukan suasana menjelang waktu berbuka puasa.

Acara inti diisi dengan ceramah agama yang disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Dakwah Kabupaten Kediri, Bapak Sigit Subiantoro. Dalam tausiyahnya, beliau menjelaskan tentang perbedaan dalam penentuan awal puasa Ramadhan yang selama ini terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, ada yang menggunakan metode rukyah dan ada pula yang menggunakan metode hisab, dan keduanya memiliki dasar dari ajaran Nabi Muhammad SAW.

“Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Karena itu, sikap yang perlu dikedepankan adalah saling menghormati dan melapangkan dada agar persaudaraan sesama muslim tetap terjaga,” ujarnya.

Kegiatan Safari Dakwah Ramadhan ini diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi serta menumbuhkan semangat kebersamaan di tengah masyarakat dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan.

Kediri – Dewan Dakwah Kabupaten Kediri menggelar kegiatan Safari Dakwah Ramadhan pada Sabtu (7/3/2026) di Masjid Al Kautsar, yang berlokasi di Jl. Iswahyudi, Dusun Templek, Desa Darungan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Kegiatan yang dimulai pukul 17.00 WIB ini dihadiri sekitar 80 jamaah yang terdiri dari pengurus Dewan Dakwah Kabupaten Kediri, takmir Masjid Al Kautsar, serta warga sekitar.

Acara diawali dengan pembukaan yang disampaikan oleh Bapak Tauhid selaku perwakilan Bidang Dakwah Dewan Dakwah Kabupaten Kediri. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kegiatan Safari Dakwah Ramadhan merupakan bagian dari upaya mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus meningkatkan semangat ibadah masyarakat selama bulan suci Ramadhan.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Alfin, seorang da’i dari ADI (Akademi Dakwah Indonesia) Jawa Timur. Lantunan ayat suci Al-Qur’an tersebut menambah kekhusyukan suasana menjelang waktu berbuka puasa.

Acara inti diisi dengan ceramah agama yang disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Dakwah Kabupaten Kediri, Bapak Sigit Subiantoro. Dalam tausiyahnya, beliau menjelaskan tentang perbedaan dalam penentuan awal puasa Ramadhan yang selama ini terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, ada yang menggunakan metode rukyah dan ada pula yang menggunakan metode hisab, dan keduanya memiliki dasar dari ajaran Nabi Muhammad SAW.

“Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Karena itu, sikap yang perlu dikedepankan adalah saling menghormati dan melapangkan dada agar persaudaraan sesama muslim tetap terjaga,” ujarnya.

Kegiatan Safari Dakwah Ramadhan ini diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi serta menumbuhkan semangat kebersamaan di tengah masyarakat dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan.

Copyright © 2026 Dewan Dakwah Kediri