LAILATUL QADAR ITU MALAM PENUH BERKAH

LAILATUL QADAR ITU MALAM PENUH BERKAH

Oleh Bahtiar Khoiruddin

عَنْ أَبِي هُريرة قَالَ: لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قد جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهَرٌ مُبَارَكٌ

dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa ketika Ramadan tiba, Rasulullah Saw. bersabda: Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah

Keberkahan bulan ramadhan salah satunya ada pada malam lailatul qadar terdapat di 10 terakhir bulan ramadhan

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.

Allah Swt. menceritakan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an di malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh dengan keberkahan, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

إِنَّا أَنْزَلْناهُ فِي لَيْلَةٍ مُبارَكَةٍ

sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati. (Ad-Dukhan: 3)

Yaitu Lailatul Qadaryangterletakdi dalam bulan Ramadan, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan)Al-Qur’an. (Al-Baqarah: 185)

Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa Allah Swt. menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauh Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit yang terdekat. Kemudian diturunkan secara terpisah-pisah sesuai dengan kejadian-kejadian dalam masa dua puluh tiga tahun kepada Rasulullah Saw.

Kemudian Allah Swt. berfirman, mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang dikhususkan oleh Allah Swt. sebagai malam diturunkan-Nya Al-Qur’an di dalamnya. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

{وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ}

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 2-3)

Menurut Imam Ibnu Katsir rahimahullah ; Maksudnya, lebih baik daripada lelaki itu menyandang senjatanya selama seribu bulan dalam berjihad di jalan Allah.

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Hakkam ibnu Muslim, dari Al-Musanna ibnus Sabbah, dari

Mujahid yang mengatakan ; bahwa dahulu di kalangan kaum Bani Israil terdapat seorang lelaki yang malam harinya melakukan qiyam hingga pagi hari, kemudian di siang harinya ia berjihad di jalan Allah hingga petang hari. Dia mengerjakan amalan ini selama seribu bulan, maka Allah menurunkan firman-Nya: Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 3) Yakni melakukan qiyam di malam kemuliaan itu lebih baik daripada amalan laki-laki Bani Israil itu.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Maslamah ibnu Ali, dari Ali ibnu Urwah yang mengatakan ; bahwa di suatu hari Rasulullah Saw. menceritakan tentang kisah empat orang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil (di masa lalu); mereka menyembah Allah selama delapan puluh tahun tanpa melakukan kedurhakaan kepada-Nya barang sekejap mata pun. Beliau Saw. menyebutkan nama mereka, yaitu Ayyub, Zakaria, Hizkil ibnul Ajuz, dan Yusya’ ibnu Nun.

Ali ibnu Urwah melanjutkan kisahnya ; bahwa lalu para sahabat Rasulullah Saw. merasa kagum dengan amalan mereka. Maka datanglah Jibril kepada Nabi Saw. dan berkata, “Hai Muhammad, umatmu merasa kagum dengan ibadah mereka selama delapan puluh tahun itu tanpa berbuat durhaka barang sekejap mata pun. Sesungguhnya Allah Swt. telah menurunkan hal yang lebih baik daripada itu.”

Kemudian Malaikat Jibril a.s. membacakan kepadanya firman Allah Swt.: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 1 -3)

Ini lebih baik daripada apa yang engkau dan umatmu kagumi. Maka bergembiralah karenanya Rasulullah Saw. dan orang-orang yang bersamanya saat itu.

Sufyan As-Sauri mengatakan ; bahwa telah sampai kepadaku dari Mujahid sehubungan dengan malam penuh berkah lebih baik daripada seribu bulan. Bahwa amalan, puasa, dan qiyamnya lebih baik daripada melakukan hal yang sama dalam seribu bulan. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zaidah, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid yang mengatakan ; bahwa malam penuh berkah lebih baik daripada seribu bulan yang di dalam bulan-bulannya tidak terdapat malam Lailatul Qadar.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah ibnu Di’amah dan Imam Syafii serta yang lainnya yang bukan hanya seorang. Amr ibnu Qais Al-Mala’i telah mengatakan ; bahwa melakukan suatu amalan di malam penuh berkah itu lebih baik daripada melakukan amalan selama seribu bulan.

Dan pendapat yang menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar itu lebih afdal daripada melakukan ibadah selama seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadar, merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, dan pendapat inilah yang benar, bukan yang lainnya.

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MASJID AS SALAM

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MASJID AS SALAM

Safari Ramadhan 1447 H Dewan Dakwah Kabupaten Kediri Digelar di Masjid As Salam Ringinsari

Kediri – Dewan Dakwah Kabupaten Kediri menggelar kegiatan Safari Ramadhan 1447 H pada Minggu, 15 Maret 2026 di Masjid As Salam, Desa Ringinsari, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Kegiatan yang dimulai pukul 17.00 WIB ini dihadiri oleh pengurus Dewan Dakwah, takmir masjid, anak-anak TPQ binaan Dewan Dakwah, serta masyarakat sekitar.

Acara diawali dengan pembukaan yang dibawakan oleh Yasin, seorang da’i dari Akademi Dakwah Indonesia (ADI). Pembukaan berlangsung dengan suasana khidmat dan menjadi awal dari rangkaian kegiatan Safari Ramadhan yang bertujuan mempererat ukhuwah serta meningkatkan semangat ibadah masyarakat di bulan suci.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan Qiroatul Qur’an yang dibacakan secara bersama-sama oleh anak-anak TPQ. Lantunan ayat suci Al-Qur’an dari para santri tersebut menambah suasana religius sekaligus menunjukkan semangat generasi muda dalam mempelajari Al-Qur’an.

Memasuki acara berikutnya, sambutan dari pengurus Dewan Dakwah Kabupaten Kediri disampaikan oleh Puguh Santoso, yang menjabat sebagai Sekretaris Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Kabupaten Kediri. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan sejarah singkat berdirinya Dewan Dakwah, sekaligus memperkenalkan tokoh pendiri organisasi tersebut serta menjelaskan peran Dewan Dakwah dalam membina umat dan mengembangkan kegiatan dakwah di tengah masyarakat.

Acara inti diisi dengan ceramah agama yang disampaikan oleh Ustadz Bahtiar Khoiruddin. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan tentang amalan-amalan istimewa di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ia mengajak jamaah untuk meningkatkan kualitas ibadah seperti memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, serta memperbanyak sedekah sebagai upaya meraih keberkahan Lailatul Qadar.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama antara pengurus Dewan Dakwah Kabupaten Kediri, takmir Masjid As Salam, anak-anak TPQ binaan Dewan Dakwah, serta masyarakat sekitar.

Setelah pelaksanaan shalat Maghrib berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian santunan kepada anak yatim, dhuafa, dan fakir miskin sebagai bentuk kepedulian sosial dan upaya memperkuat solidaritas umat di bulan suci Ramadhan.

Kegiatan Safari Ramadhan ini diharapkan dapat mempererat silaturahmi antara Dewan Dakwah dan masyarakat sekaligus menumbuhkan semangat berbagi dan meningkatkan kualitas ibadah di bulan Ramadhan.

RAMADHAN BERBAGI 1447 H

RAMADHAN BERBAGI 1447 H

Masjid Al Hilal Ngadiluwih Gelar Kegiatan “Ramadhan Berbagi” 1447 H

Kediri — Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan 1447 H / 2026 M, Masjid Al Hilal yang beralamat di Jalan Lumpang Kenteng, Desa Rembangkepuh, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri menggelar kegiatan sosial bertajuk “Ramadhan Berbagi” pada Sabtu, 14 Maret 2026.

Masjid yang berada di bawah naungan Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Kabupaten Kediri ini menyalurkan berbagai bentuk bantuan kepada masyarakat dan para pegiat dakwah di lingkungan masjid. Dalam kegiatan tersebut, panitia membagikan 300 paket sembako, memberikan santunan kepada 6 anak yatim, serta menyerahkan 44 hadiah kepada imam dan pengurus masjid, tenaga pengajar PaudQu, serta para Ustadz dan Ustadzah TPA dan Taman Lansia.

Kegiatan dimulai sejak pukul 08.00 WIB dengan susunan acara yang berlangsung khidmat dan tertib. Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh santri TPA Al Hilal, kemudian sambutan dari takmir masjid serta sambutan pengurus Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia Kabupaten Kediri yang disampaikan oleh Ustadz Sigit Subiyantoro. Selanjutnya doa dipimpin oleh Ustadz Mubin, dilanjutkan penutup dan prosesi pembagian bantuan kepada para penerima.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh pengurus Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia Kabupaten Kediri, Laznas, serta Muslimat Dewan Dakwah Kabupaten Kediri. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar dan penuh kebersamaan. 🤝

Selain kegiatan tersebut, selama bulan suci Ramadhan Masjid Al Hilal setiap hari juga menyediakan hidangan berbuka puasa (ifthar) bagi jamaah masjid dan jamaah kajian. Takjil dan makanan berbuka yang dibagikan mencapai tidak kurang dari 150 porsi setiap hari. Pada malam-malam i’tikaf, panitia juga menyediakan makan sahur bagi jamaah yang beribadah di masjid. 🍽️

Program “Ramadhan Berbagi” ini telah menjadi kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun sejak Masjid Al Hilal berdiri pada tahun 2021, sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.

Semoga kegiatan ini membawa keberkahan dan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat.

Fii ridhallah wa barokatuhu.

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MUSHOLLA AL HILAL

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MUSHOLLA AL HILAL

Safari Ramadhan 1447 H Dewan Da’wah Kabupaten Kediri Digelar di Mushala Al-Hilal, Jamaah Tetap Antusias Meski Diguyur Gerimis

Kediri, 8 Maret 2026 — Semangat syiar Islam tetap membara meski langit Kediri berselimut mendung. Dewan Da’wah Kediri kembali melaksanakan agenda Safari Ramadhan 1447 H pada Ahad (8/3/2026) yang bertempat di Mushala Al-Hilal, Dusun Baran, Desa Maesan, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

Mushala Al-Hilal memiliki nilai historis dan kedekatan emosional dengan Dewan Da’wah Kediri. Tanah tempat mushala berdiri merupakan wakaf dari keluarga Bapak Thohir Sanusi, yang juga dikenal sebagai salah satu pengurus aktif Dewan Da’wah Kediri.

Kegiatan dimulai pukul 16.30 WIB. Meski cuaca mendung disertai hujan rintik-rintik, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat jamaah untuk hadir memadati mushala mengikuti rangkaian kegiatan Safari Ramadhan.

Acara dipandu dengan khidmat oleh Ust. Rofiq selaku pembawa acara. Sambutan pertama disampaikan oleh Pak Yai Sopingi, yang menyampaikan rasa syukur serta terima kasih kepada rombongan Dewan Da’wah Kediri atas kunjungan dan silaturahmi yang terjalin dengan masyarakat Dusun Baran.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ust. Sigit Subiantoro, Wakil Ketua Dewan Da’wah Kediri. Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan peran strategis Dewan Da’wah dalam pembinaan umat di wilayah Kediri, sekaligus menginformasikan jumlah masjid dan mushala yang saat ini berada dalam binaan lembaga tersebut.

Sebagai bentuk kepedulian sosial, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa, yang diserahkan langsung oleh Ust. Sigit Subiantoro kepada para penerima.

Memasuki acara inti, Ust. Mubin menyampaikan kajian rohani menjelang waktu berbuka puasa. Dalam tausiyahnya, ia menekankan dua poin penting, yaitu keutamaan shalat Tarawih sebagai sarana penggugur dosa, serta pentingnya memaksimalkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk meraih kemuliaan Lailatul Qadar.

Para jamaah tampak antusias menyimak setiap nasihat dan ilmu yang disampaikan. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa di dalam Mushala Al-Hilal sepanjang kegiatan berlangsung.

Rangkaian acara kemudian ditutup saat adzan Maghrib berkumandang, yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama antara jamaah dan pengurus Dewan Da’wah Kediri. Kebersamaan tersebut menjadi simbol kuatnya ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat Kecamatan Mojo.

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MUSHOLLA AR RAUDHOH

SAFARI RAMADHAN 1447 H DI MUSHOLLA AR RAUDHOH

Safari Dakwah Dewan Dakwah Kabupaten Kediri di Musholla Ar Raudhoh Berlangsung Khidmat

KEDIRI – Kegiatan Safari Dakwah Ramadhan yang diselenggarakan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kabupaten Kediri berlangsung khidmat pada Ahad, 8 Maret 2026 di Musholla Ar Raudhoh, Tambakrejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Acara dimulai pukul 17.00 WIB dan dihadiri sekitar 100 jamaah dari warga sekitar musholla.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh pembawa acara, Bapak Tauhid. Selanjutnya, pembacaan Kalam Ilahi disampaikan oleh Ustadz Zaky yang menambah kekhusyukan suasana menjelang waktu berbuka.

Memasuki sesi sambutan, sambutan pertama disampaikan oleh Takmir Musholla Ar Raudhoh, Bapak Nur Rokani. Dalam sambutannya beliau menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Dewan Dakwah yang sejak awal telah membantu proses pendirian musholla tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa keberadaan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di musholla ini turut mendapat dukungan dari ADI (Akademi Dakwah Indonesia). Bahkan hingga saat ini masih terdapat pengabdian dari para kader ADI yang berkontribusi dalam kegiatan dakwah dan pendidikan di lingkungan tersebut. Jajaran takmir pun mengaku senang atas kunjungan pengurus Dewan Dakwah Kabupaten Kediri dalam kegiatan safari Ramadhan ini.

Sambutan kedua disampaikan oleh Ketua Dewan Dakwah Kabupaten Kediri, Ustadz Bahtiar Khoiruddin. Dalam kesempatan tersebut beliau memperkenalkan secara singkat tentang Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia kepada masyarakat yang hadir. Ia menjelaskan bahwa Dewan Dakwah didirikan oleh tokoh nasional sekaligus ulama besar, Mohammad Natsir, yang pernah menjabat sebagai menteri pada masa Presiden Soekarno.

Acara dilanjutkan dengan ceramah agama yang disampaikan oleh Ustadz Slamet Mintoadi. Dalam tausiyahnya beliau menekankan pentingnya dakwah serta metodologi yang tepat dalam menyampaikan dakwah kepada masyarakat. Ia merujuk pada firman Allah dalam Surat An-Nahl ayat 125, yang menjelaskan bahwa dakwah dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, serta dialog atau diskusi dengan cara yang santun.

Kegiatan kemudian ditutup dengan suasana penuh kebersamaan. Pengurus takmir, pengurus Dewan Dakwah Kabupaten Kediri, serta warga sekitar Musholla Ar Raudhoh mengikuti acara Safari Ramadhan ini dengan antusias dan penuh kekeluargaan. Musholla Ar Raudhoh sendiri diketahui merupakan milik keluarga besar Bapak Tom Mas’udi, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dewan Dakwah Wilayah Jawa Timur.

Kegiatan ini diharapkan semakin mempererat ukhuwah Islamiyah serta memperkuat semangat dakwah di tengah masyarakat.

NIAT PUASA RAMADHAN

NIAT PUASA RAMADHAN

Oleh Bahtiar Khoiruddin

Dalil tentang niat puasa ramadhan

عَنْ أَمِيرِ المُؤمِنينَ أَبي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ عنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ )). رَوَاهُ إِمَامَا الْمُحَدِّثِيْنَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ بَرْدِزْبَهْ الْبُخَارِيُّ، وَأَبُوْ الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ بْنِ مُسْلِمٍ الْقُشَيْرِيّ النَّيْسَابُوْرِيّ، فِيْ صَحِيْحَيْهِمَا اللَّذَيْنِ هُمَا أَصَحُّ الْكُتُبِ اْلمُصَنَّفَةِ.

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al Khaththab adia berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu hanyalah akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya keapda Allah dan Rasul-Nya. Namun barang siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut.” (Diriwayatkan oleh dua Imamnya para ahli hadits, Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj  bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi dalam dua kitab shahih mereka, yang keduanya merupakan kitab yang paling shahih diantara kitab-kitab yang ada.).[1]

[1]  Diriwayatkan oleh al Bukhari (1) dan Muslim (1907).

  • Hadits Hafshah (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa’i):

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ


“Siapa yang belum berniat di malam hari sebelum Shubuh, maka tidak ada puasa untuknya.”

  • Hadits Riwayat Ad-Daruquthni:

لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ

“Tidak ada puasa bagi yang tidak berniat ketika malam hari.”

  • Sedangkan untuk puasa sunnah, boleh berniat di pagi hari asalkan sebelum waktu zawal (tergelincirnya matahari ke barat). Dalilnya sebagai berikut,

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ عَلَىَّ قَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ طَعَامٌ ». فَإِذَا قُلْنَا لاَ قَالَ « إِنِّى صَائِمٌ »

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menemuiku lalu ia berkata, “Apakah kalian memiliki makanan?” Jika kami jawab tidak, maka beliau berkata, “Kalau begitu aku puasa.” (HR. Muslim no. 1154 dan Abu Daud no. 2455).

Imam Ibnu Qudamah, dalam kitabnya ia mengatakan bahwa setiap puasa wajib harus disertai dengan niat yang jelas dan tegas (ta’yin). Orang yang hendak berpuasa juga harus memiliki keyakinan dalam hatinya bahwa ia akan berpuasa keesokan harinya, misalnya dalam puasa Ramadhan. Dalam kitabnya ia mengatakan:

 ويجب تعيين النية في كل صوم واجب فيعتقد انه يصوم غدا من رمضان

Artinya, “Wajib untuk menentukan niat secara jelas dalam setiap puasa wajib, sehingga seseorang benar yakin bahwa ia akan berpuasa esok hari sebagai bagian dari (puasa) Ramadhan.” (as-Syarhul Kabir libni Qudamah, [Kairo: Darun Nasyr, 1995], jilid III, halaman 27).

Alhasil, dari penjelasan di atas para ulama empat madzhab sepakat bahwa niat merupakan rukun dalam puasa yang tidak boleh diabaikan, karena tanpa niat, ibadah puasa tidak sah secara syariat. Semuanya sepakat bahwa puasa yang dilakukan tanpa niat tidaklah dianggap sebagai puasa, dan yang melakukan demikian wajib untuk mengganti puasanya (qadha). Rekomendasi dan Solusi Kendati ulama madzhab empat sepakat bahwa niat merupakan bagian dari rukun puasa yang tidak boleh ditinggalkan, dalam praktiknya terdapat perbedaan pendapat yang menjadi solusi ketika dalam keadaan-keadaan sulit.

Misal di antaranya dalam madzhab Hanafi, yang mengatakan bahwa waktu niat dimulai sejak malam hari, dan ini yang lebih utama, namun juga boleh dilakukan di pagi hari hingga pertengahan hari, berdasarka riwayat yang disampaikan Aisyah radhiyallahu anha, ketika pagi hari tidak ada sarapan kemudian beliau, kalau begitu saya puasa.

Pendapat ini sangat cocok jika suatu saat kita lupa untuk berniat puasa di malam hari, dengan mengikuti madzhab Hanafi maka kita bisa langsung berniat di pagi hari hingga pertengahan hari.  Oleh karena itu, Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam salah satu karyanya merekomendasikan pendapat ini jika suatu saat terdapat seseorang yang bermazhab Syafi’i lupa untuk berniat di malam hari, yaitu dengan mengikuti madzhab Hanafi yang membolehkan niat setelah fajar. Dalam kitabnya ia mengatakan:

 وَيُسَنُّ لِمَنْ نَسِيَ فِي رَمَضَانَ حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ النَّهَارِ؛ لِأَنَّهُ يُجْزِئُهُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ قَالَ فِي الْإِيعَابِ هُوَ ظَاهِرٌ إنْ قَلَّدَهُ وَإِلَّا فَهُوَ تَلَبُّسٌ بِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ فِي عَقِيدَتِهِ وَهُوَ حَرَام

Artinya, “Disunnahkan bagi seseorang yang lupa berniat di bulan Ramadhan hingga fajar terbit untuk berniat di awal siang, karena menurut Abu Hanifah, hal itu tetap mencukupi. Dalam kitab al-I‘ab disebutkan bahwa hal ini jelas berlaku jika ia mengikuti pendapat Abu Hanifah. Namun jika tidak, maka itu dianggap sebagai keterlibatan dalam ibadah yang rusak menurut keyakinannya sendiri, dan hukumnya haram.” (Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, [Beirut: Darul Ihya at-Turats, 1983], jilid VIII, halaman 249).

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

AMALAN YANG MENGHILANGKAN PAHALA PUASA

AMALAN YANG MENGHILANGKAN PAHALA PUASA

Oleh Bahtiar Khoiruddin

Dalam menjalankan ibadah puasa selain harus memperhatikan keabsahannya secara fiqih, harus juga diperhatikan hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa, agar puasa yang dikerjakan berkualitas. Berkaitan hal ini ada tiga hadits shahih tentang dosa yang menghilangkan pahala puasa.

Al-Imam Nawawi mengatakan dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab bahwa kesempurnaan dan keutamaan puasa hanya akan diperoleh dengan menjaga dari perkataan yang tidak berfaidah dan perkataan yang buruk, bukan oleh sebabnya puasa menjadi batal.

Berikut ini tiga hadits yang menjadi landasannya :

Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw bersabda :

 مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ   

yang Terhalang Beda Keyakinan Artinya, “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak peduli dia telah meninggalkan makanan dan minumannya.”

Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasai dan Ibnu Majah dalam Sunannya, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak—ia berkata: “Hadits ini shahih sesuai syarat keshahihan hadits menurut standar Imam Al-Bukhari”—. Hadits ini diriwayatkan juga dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw bersabda:

   رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إلَّا السَّهَرُ

Artinya, “Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan hausnya saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malamnya saja.”

Ketiga, hadits riwayat Al-Baihaqi dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak—ia berkata: “Hadits ini shahih sesuai standar keshahihan hadits menurut Imam Muslim”—. Hadits ini diriwayatkan juga dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw bersabda : dari Menggosip Orang

  لَيْسَ الصِّيَامُ مِنْ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ فَقَطْ الصِّيَامُ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

Artinya, “Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum saja, puasa adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan keji”.

Keempat, Sebenarnya ada​ hadits lain, yaitu :

  خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ الْغِيبَةُ وَالنَّمِيمَةُ وَالْكَذِبُ وَالْقُبْلَةُ وَالْيَمِينُ الْفَاجِرَةُ

Artinya, “Lima hal yang menyebabkan batalnya puasa, yaitu: ghibah, mengadu domba, berdusta, ciuman, dan sumpah palsu.”   Namun Imam Anb​​​​​​-Nawawi menilai hadits ini adalah hadits yang batil dan tidak dapat dijadikan hujah. (Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab, [Beirut, Darul Fikr], juz VI, halaman 356).

Sederhannya, kesimpulan sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitabnya Fathul Mu’in, bahwa orang berpuasa perlu ditekankan untuk menjaga lisannya dari segala yang haram, semisal berbohong, mengunjing dan mencaci maki. Karena hal tersebut dapat menghilangkan pahala puasanya. Pendapat ini berdasarkan hadits-hadits shahih di atas dan pendapat ini merupakan pendapat Ashabus Syafi’i. Berbeda dengan Ashab Syafi’i, Imam Al-Adzra’i mengatkan bahwa seseorang yang melakukan hal tersebut ia tetap mendapatkan pahala puasanya dan baginya dosa kemaksiatannya itu. Sedangkan menurut Imam Auza’i hal tersebut dapat membatalkan puasanya, pendapat beliau ini mengqiyaskan pendapat mazhab Imam Ahmad tentang tidak sahnya shalat di tempat ghasab.

Beberapa hal yang menghilangkan pahala puasa dari penjelasan rasulullah saw dalam hadist di atas :

  1. Ghibah yaitu menceritakan aib seseorang kepada orang lain

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. [Al-Hujurat/49:12]

2. Mengadudomba di antara manusia

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut,

ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺃَﻻَ ﺃُﻧَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﻟْﻌَﻀْﻪُ ﻫِﻰَ ﺍﻟﻨَّﻤِﻴﻤَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺎﻟَﺔُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ».

Dari Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Muhammad berkata, “Maukah kuberitahukan kepada kalian apa itu al’adhhu ? Itulah namimah, perbuatan menyebarkan berita untuk merusak hubungan di antara sesama manusia”[1]

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa namimah bertujuan merusak hubungan manusia. Beliau berkata,

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀ : ﺍﻟﻨَّﻤِﻴﻤَﺔ ﻧَﻘْﻞ ﻛَﻠَﺎﻡِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺑَﻌْﻀِﻬِﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺑَﻌْﺾٍ ﻋَﻠَﻰ ﺟِﻬَﺔِ ﺍﻟْﺈِﻓْﺴَﺎﺩِ ﺑَﻴْﻨﻬﻢْ .

“Para ulama menjelaskan namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka.”[2]

3. Berbohong baik perkataan maupun perbuatan

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).’”

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (I/384); al-Bukhâri (no. 6094) dan dalam kitab al-Adabul Mufrad (no. 386);  Muslim (no. 2607 (105)); Abu Dawud (no. 4989); At-Tirmidzi (no. 1971); Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (VIII/424-425, no. 25991); Ibnu Hibban (no. 272-273-at-Ta’lîqâtul Hisân); Al-Baihaqi (X/196); Al-Baghawi (no. 3574); At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”

4. Perkataan keji seperti memfitnah ataupun mencaci maki

Allah Ta’ala juga berfirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (dizalimi). Allah itu Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’ [4]: 148)

Maksudnya, Allah Ta’ala tidak menyukai perkataan yang jelek, perkataan yang menyakiti (orang lain), kecuali bagi orang yang dizalimi. Bagi orang yang dizalimi, diperbolehkan untuk mendoakan jelek orang yang menzalimi, atau menyebutkan keburukan orang zalim tersebut.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

لا يحب الله أن يدعوَ أحدٌ على أحد، إلا أن يكون مظلومًا

“Maksudnya, Allah tidak menyukai seseorang berdoa jelek untuk orang lain, kecuali jika dia dizalimi.” [1]

5. Mencium istri

Kadang godaan tidak bisa ditekan saat puasa oleh sebagian pasangan, apalagi pasangan muda. Apakah dengan mencium istri, puasa menjadi batal? Bagaimana jika sampai keluar mani?

Dalam Al Mughni, Ibnu Qudamah berkata, “Mencium istri tidak lepas dari tiga keadaan:

(1) Mencium istri dan tidak keluar mani, maka puasanya tidak batal dan kami tidak mengetahui adanya khilaf di antara para ulama mengenai hal ini.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

كَانَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ ، وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mencium istrinya sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan demikian karena beliau adalah orang yang paling kuat menahan syahwatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Umar Bin Al Khaththab, beliau berkata,

هَشَشْتُ فَقَبَّلْت وَأَنَا صَائِمٌ ، فَقُلْت : يَا رَسُولَ اللَّهِ : صَنَعْت الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا ، قَبَّلْت وَأَنَا صَائِمٌ .فَقَالَ : أَرَأَيْت لَوْ تَمَضْمَضْت مِنْ إنَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ ؟ قُلْت : لَا بَأْسَ بِهِ ، قَالَ : فَمَهْ ؟

(Suatu saat) aku rindu dan kemudian aku mencium istriku padahal aku sedang berpuasa, maka aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hari ini aku melakukan suatu kesalahan besar, aku telah mencium istriku padahal sedang berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Bagaimana pendapatmu jika kamu berpuasa kemudian berkumur-kumur?” Aku menjawab, “Seperti itu tidak mengapa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu apa masalahnya?” (HR. Abu Daud). Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan mencium dengan berkumur-kumur dari sisi sama-sama merupakan muqoddimah syahwat. Berkumur-kumur tidak membatalkan puasa selama air tidak masuk. Jika masuk, maka batal.

Imam Ahmad sendiri mendhoifkan hadits di atas. Beliau berkata bahwa itu hanyalah hembusan. Dan itu tidak mengapa.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa bercumbu atau mencium istri tidak membatalkan puasa selama tidak keluar mani”.(Syarh Shahih Muslim, 7: 215)

(2) Mencium istri dan keluar mani, puasanya batal tanpa diperselisihkan oleh para  ulama sepengetahuan kami. Hal ini dimisalkan keluarnya mani dengan jima’ tetapi tidak melalui persetubuhan di kemaluan.

(3) Mencium istri dan keluar madzi, puasanya itu batal menurut imam Imam Ahmad dan Imam Malik. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i menyatakan tidak membatalkan puasa. Diriwayatkan dari Al Hasan, Asy Sya’biy, Al Auza’i bahwa keluarnya madzi kala itu tidak menyebabkan mandi wajib sama halnya dengan kencing.

6. Sumpah palsu

Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْكَبَائِرُ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ قَالَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ ثُمَّ عُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْيَمِينُ الْغَمُوسُ قُلْتُ وَمَا الْيَمِينُ الْغَمُوسُ قَالَ الَّذِي يَقْتَطِعُ مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ هُوَ فِيهَا كَاذِبٌ

Dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Seorang Arab Badui datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasûlullâh! Apakah dosa-dosa besar itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Isyrak (menyekutukan sesuatu) dengan Allâh”, dia bertanya lagi, “Kemudian apa?”, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kemudian durhaka kepada dua orang tua”, dia bertanya lagi, “Kemudian apa?”, Beliau menjawab, “Sumpah yang menjerumuskan”. Aku bertanya, “Apa sumpah yang menjerumuskan itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sumpah dusta yang menjadikan dia mengambil harta seorang Muslim”. [HR. Al-Bukhâri, no. 6255]

Artikel Lainnya : Dengan Ramadhan, Selamat Diri Dari Siksa Kubur

Dengan Ramadhan, Selamat Diri Dari Siksa Kubur

Dengan Ramadhan, Selamat Diri Dari Siksa Kubur

Oleh Bahtiar Khoiruddin

Kehidupan kita di dunia yang fanah ini adalah antrian panjang menunggu sebuah kepastian yang bernama kematian. Cepat atau lambat kita semua akan mati, lalu ramailah keluarga, karib kerabat, sahabat mengantar ke pembaringan tanah sempit yang telah digali. Namun, keramaian itu takkan lama, hanya beberapa jam atau bahkan beberapa menit saja. Kemudian mereka semua akan pulang, entah kapan lagi kembali untuk menjenguk. Ada tiga hal yang akan mengantar kita, namun hanya satu yang akan tetap bersama untuk menemani kita. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ : يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Ada tiga hal yang mengikuti mayit, dua akan kembali hanya satu yang akan tinggal bersamanya. Yang akan mengikutinya adalah keluarga, harta serta amalannya. Keluarga dan hartanya akan kembali hanya amalannya yang tersisa menemaninya.” (HR. Bukhari: 6514, Muslim: 2960)

Setelah kita berada di alam kubur, maka kita akan dihadapkan dengan dua pilihan antara merasakan nikmat atau azab tergantung keadaan kita masing-masing. Mengimani adanya nikmat dan azab kubur adalah salah satu akidah Ahlussunnah Wal jama’ah. Seseorang akan merasakan nikmat atau siksa dalam kuburnya. Karenanya, Rasulullah n mengajarkan umatnya agar meminta perlindungan dari adzab kubur, do’a yang hendaknya dibaca oleh setiap mukmin dan mukminah dalam setiap shalatnya, ketika tasyahud akhir sebelum salam.

Hal tersebut di ajarkan oleh beliau Rasulullah saw karena berat, dahsyat dan mengerikannya siksa di alam kubur itu nantinya

Aisyah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang azab kubur maka beliau bersabda:

فسألت عائشة رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عَنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، فَقَالَ: “نَعَمْ، عَذَابُ الْقَبْرِ حَقٌّ” قَالَتْ عَائِشَةُ: فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَعْدُ صلى صَلَاةً، إِلَّا تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Benar. Siksa kubur itu benar adanya. Maka Aisyah berkata: Setelah itu aku tidak melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat kecuali beliau berlindung dari siksa kubur”.[5]

Di antara yang menunjukkan bahwa  syirik merupakan salah satu sebab siksa kubur adalah hadits Zaid bin Tsabit radhiallahu anhu berkata:

بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَائِطٍ لِبَنِي النَّجَّارِ عَلَى بَغْلَةٍ لَهُ وَنَحْنُ مَعَهُ إِذْ حَادَتْ بِهِ فَكَادَتْ تُلْقِيهِ وَإِذَا أَقْبُرٌ سِتَّةٌ أَوْ خَمْسَةٌ أَوْ أَرْبَعَةٌ فَقَالَ : مَنْ يَعْرِفُ أَصْحَابَ هَذِهِ الأَقْبُرِ ؟ فَقَالَ رَجُلٌ : أَنَا .

قَالَ : فَمَتَى مَاتَ هَؤُلاءِ ؟ قَالَ : مَاتُوا فِي الإِشْرَاكِ .. فَقَالَ : إِنَّ هَذِهِ الأُمَّةَ تُبْتَلَى فِي قُبُورِهَا ، فَلَوْلا أَنْ لا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ .. ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ : تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ ..

(رواه مسلم، رقم 2867)

“Ketika Nabi sallallahualaihi wa salam di dinding Bani Najjar dengan keledai yang ditumpanginya sementara kami bersama beliau, tiba-tiba dia oleng membuatnya hamper terlempar, ternyata di sana ada enam atau lima atau empat kuburan. Maka beliau bertanya, “Siapa yang mengetahui orang-orang yang dikubur ini?”  Ada seseorang menjawab, “Saya.” Beliau bertanya, “Kapan mereka meniggal dunia?” Dia menjawab, “Mereka mati dalam kesyirikan.” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya umat ini diuji dalam kuburannya. Kalau sekiranya kalian tidak saling menguburkan (mayat), saya akan berdoa kepada Allah agar kalian dapat mendengarkan siksa kubur seperti yang saya dengarkan. Kemudian beliau menghadap wajahnya kepada kami seraya bersabda, ‘Berlindunglah kepada Alah dari siksaan kubur.” (HR. Muslim, no. 2867).

Dari Asma’ binti Abi Bakr Radhiyallahu anhuma bahwa Nabi bersabda.

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي الْقُبُورِ مِثْلَ أَوْ قَرِيبًا مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ، يُؤْتَى أَحَدُكُمْ فَيُقَالُ لَهُ: مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ؟ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ – أَوْ الْمُوقِنُ لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ – فَيَقُولُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ  – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى، فَأَجَبْنَا وَآمَنَّا وَاتَّبَعْنَا فَيُقَالُ لَهُ: نَمْ صَالِحًا فَقَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوقِنًا، وَأَمَّا الْمُنَافِقُ أَوْ الْمُرْتَابُ (لَا أَدْرِي أَيَّتَهُمَا قَالَتْ أَسْمَاءُ) فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ

“Sungguh telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan menghadapi fitnah kubur sama atau seperti fitnah Dajjal, salah seorang di antara kalian didatangkan dan dikatakan kepadanya: Apakah yang kamu ketahui tentang lelaki ini?. Adapun orang-orang yang beriman maka dia menjawab: Muhamad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia telah datang kepada kami dengan berbagai penjelasan tentang kebenaran dan petunjuk, maka kamipun menerimanya, beriman kepadanya dan mengikutinya, maka dikatakan kepadanya: Tidurlah dengan baik, dan sungguh kami telah mengetahui kamu bahwa dirimu meyakininya, adapun orang-orang munafiq atau ragu-ragu (aku tidak mengetahui kata yang manakah yang diungkapan oleh Asma’ ra) maka dia berkata: Aku tidak mengetahuinya, aku telah mendengar manusia berkata tertentu maka akupun mengatakannya”.[4]

Dan Nabi telah menjelaskan kepada umatnya tentang bentuk ujian ini di dalam kubur. Dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa Nabi bersabda.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ

“Seorang hamba bila diletakkan di dalam kuburnya sementara para shahabatnya telah berlalu meninggalkannya, dan dia mendengar gesekan sandal-sandal mereka, maka dia akan didatangi dua orang malaikat dan mendudukannya dan bertanya kepadanya: Apakah pendapatmu tentang lelaki ini, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Maka dia akan menjawab: Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba dan utusan Allah, lalu dikatakan kepadanya: Lihatlah pada tempatnya di neraka dan Allah telah menggantinya dengan surga, maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia melihat kedua-duanya”. Adapun orang kafir atau munafiq maka dia menjawab: Aku tidak mengetahui, aku berkata tentang dirinya seperti apa yang dikatakan oleh manusia, maka dikatakan kepadanya: Kamu tidak akan mengetahui dan tidak akan membaca, kemudian dia dipukul dengan sebuah palu dari besi dengan satu pukulan diantara kedua telinganya, maka dia berteriak dengan teriakan yang didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia”.[6]

Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah n bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian tasyahud, hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara dan berdoa :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam dan siksa kubur, dan fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Masihid Dajjal. (HR. Muslim: 588)

Alam kubur adalah pos pertama dan sangat menentukan dari perjalanan akhirat yang panjang bagi setiap anak manusia. Hal ini berdasarkan sebuah hadits, dari Hani mantan budak Utsman bin Affan a, ia menuturkan:

كَانَ عُثْمَانُ إِذَا وَقَفَ عَلَى قَبْرٍ بَكَى حَتَّى يَبُلَّ لِحْيَتَهُ فَقِيلَ لَهُ تُذْكَرُ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَا تَبْكِي وَتَبْكِي مِنْ هَذَا فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ الله صَلَّى اللهعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا الْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

‘Utsman menangis bila berdiri disisi kuburan hingga jeng-gotnya basah. Dikatakan padanya: Ketika disebutkan surga dan neraka kau tidak menangis sementara kau menangis karena ini. ‘Utsman berkata: Rasulullah n bersabda: “Se–sungguhnya kuburan adalah awal perjalanan akhirat. Barang siapa yang berhasil di alam kubur maka yang setelahnya akan lebih mudah dan barang siapa yang tidak berhasil maka yang setelahnya lebih berat.” ‘Utsman berkata: Rasulullah n bersabda: “Aku tidak melihat suatu pemandang pun melainkan kuburan lebih mengerikan.” (HR. Tirmidzi: 2308, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Ada sebuah hadits yang di nilai Hasan oleh para ulama hadits, berkisah tentang keadaan kita saat telah berada di alam kubur untuk pertama kalinya. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إن الْمَيِّتَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ إِنَّهُ يَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ حِينَ يُوَلُّونَ عَنْهُ، فَإِنْ كَانَ مُؤْمِنًا؛ كَانَتِ الصَّلَاةُ عِنْدَ رَأْسِهِ, وَكَانَ الصِّيَامُ عَنْ يَمِينِهِ, وَكَانَتِ الزَّكَاةُ عَنْ شِمَالِهِ, وَكَانَ فعل الخيرات ـ من الصدقة, والصلة, والمعروف, والإحسان إِلَى النَّاسِ ـ عِنْدَ رِجْلَيْهِ, فَيُؤْتَى مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ فَتَقُولُ الصَّلَاةُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ, ثُمَّ يُؤْتَى عَنْ يَمِينِهِ فَيَقُولُ الصِّيَامُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ, ثُمَّ يُؤْتَى عَنْ يَسَارِهِ فَتَقُولُ الزَّكَاةُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ, ثُمَّ يُؤْتَى مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ فَتَقُولُ فَعَلُ الْخَيْرَاتِ ـ مِنَ الصَّدَقَةِ, وَالصِّلَةِ, وَالْمَعْرُوفِ, وَالْإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ ـ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ, فَيُقَالُ لَهُ: اجْلِسْ. فَيَجْلِسُ, وَقَدْ مُثِّلَتْ لَهُ الشَّمْسُ, وَقَدْ أُدْنِيَتْ لِلْغُرُوبِ, فَيُقَالُ لَهُ: أَرَأَيْتَكَ هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي كَانَ فِيكُمْ مَا تَقُولُ فِيهِ, وَمَاذَا تَشَهَّدُ بِهِ عَلَيْهِ؟ فَيَقُولُ: دَعُونِي حَتَّى أُصَلِّيَ. فَيَقُولُونَ: إِنَّكَ سَتَفْعَلُ أَخْبرنا عَمَّا نَسْأَلُكُ عَنْهُ، أَرَأَيْتَكَ هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي كَانَ فِيكُمْ مَا تَقُولُ فِيهِ, وَمَاذَا تَشَهَّدُ عَلَيْهِ؟ قَالَ: فَيَقُولُ: مُحَمَّدٌ أَشْهَدُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ, وَأَنَّهُ جَاءَ بِالْحَقِّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ. فَيُقَالُ لَهُ: عَلَى ذَلِكَ حَيِيتَ, وَعَلَى ذَلِكَ مُتَّ, وَعَلَى ذَلِكَ تُبْعَثُ ـ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ـ, ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ: هَذَا مَقْعَدُكَ مِنْهَا, وَمَا أَعَدَّ اللَّهُ لَكَ فِيهَا, فَيَزْدَادُ غِبْطَةً وَسُرُورًا, ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ النَّارِ فَيُقَالُ لَهُ: هَذَا مَقْعَدُكَ مِنْهَا, وَمَا أَعَدَّ اللَّهُ لَكَ فِيهَا لَوْ عَصَيْتَهُ, فَيَزْدَادُ غِبْطَةً وَسُرُورًا, ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا, وينوَّر لَهُ فِيهِ, وَيُعَادُ الْجَسَدُ لِمَا بَدَأَ مِنْهُ, فَتَجْعَلُ نَسْمَتُهُ فِي النَّسَمِ الطِّيِّبِ, وَهِيَ: طَيْرٌ يَعْلُقُ فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ قَالَ: (فَذَلِكَ قَوْلُهُ ـ تَعَالَى ـ: {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ} إبراهيم: 27

Sesungguhnya mayit ketika diletakkan di kuburnya ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarkannya saat mereka kembali pulang. Apabila ia seorang mukmin maka shalat akan berada disisi kepalanya, puasa disisi kanannya, zakat disisi kirinya dan amalan kebaikan lainnya – seperti sedekah, silaturrahmi, perbuatan ma’ruf dan ihsan kepada orang lain- berada disisi kakinya. Lalu ia didatangi dari arah kepalanya maka shalat berkata: “Tidak ada jalan masuk dari arahku.” Kemudian didatangi dari arah kanannya maka puasa berkata: “Tidak ada jalan masuk dari arahku.” Kemudian didatangi dari arah kirinyanya maka zakat berkata: “Tidak ada jalan masuk dari arahku.” Kemudian didatangi dari arah kedua kakinya maka amalan kebaikan berkata: “Tidak ada jalan masuk dari arahku.” Akhirnya dikatakan kepadanya: “Duduklah!” Maka ia pun duduk dan dikhayalkan kepadanya matahari yang hampir terbenam. Dikatakan kepadanya: “Tahukah kamu dengan laki-laki ini yang dahulu ada di tengah kalian, apa yang kamu katakan tentangnya dan apa yang kamu persaksikan atasnya?” Maka ia pun berkata: “Tinggal aku sebentar hingga aku melakukan shalat.”[1] Mereka berkata: “Kamu akan melakukannya, kabarkan dulu kepada kami apa pendapatmu tentang laki-laki itu dan apa yang kamu persaksikan atasnya?” Ia berkata: “Muhammad, aku bersaksi bahwa ia adalah utusan Allah. Ia datang membawa kebenaran dari sisi Allah.” Maka di katakan kepadanya: “Di atas hal itulah kamu hidup, di atas itulah kamu mati dan di atas itu pulalah kamu akan dibangkitkan in Syaa Allah.” Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu surga dan dikatakan kepadanya: Inilah tempat dudukmu dan apa yang telah dipersiapkan Allah untukmu di dalamnya.” Sehingga bertambah kebahagiaan dan kegembiraannya. Kemudian dibukakan salah satu pintu neraka untuknya dan dikatakan kepadanya: Ini adalah tempat dudukmu dan apa yang telah dipersiapkan Allah untukmu di dalamnya jika kamu memaksiati-Nya.” Sehingga bertambah kebahagiaan dan kegembiraannya. Lalu diluaskan kuburnya 70 hasta, diterangi dan dikembalikan ruhnya ke jasadnya lalu dijadikan ruhnya dalam rupa yang baik yaitu seokor burung yang bertengger di pohon surga. Itulah makna firman-Nya (Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan akhirat) QS. Ibrahim: 27[2]

Di dalam hadits ini mengabarkan kepada tentang amalan yang mampu menyelamatkan seseorang dari pedihnya siksa kubur yaitu ;

  1. Shalat fardhu yang di terima oleh Allah SWT
  2. Puasa Ramadhan karena Allah yang tidak di iringi dengan perbuatan yang menghapusnya.
  3. Zakat maal Ketika sudah sampai nisob dan waktunya sudah mencapai setahun.
  4. Amal shalih lainnya seperti ; sedekah, shilaturrahmi, perbuatan baik dan kebaikan pada orang lain

Ia dapat melindungi seorang hamba dari siksa dan ujian alam kubur. Dan jika kita renungkan, semua amalan itu terkumpul di bulan ramadhan ini. Shalat wajib atau sunnahnya, puasa ramadhan, zakat maal ataupun zakat fitrah yang kita tunaikan setelah berada di akhir bulan, serta bermacam-macam amal kebaikan lainnya seperti: bacaan Qur’an, sedekah, amar ma’ruf nahi mungkar, dll.

Kita berdoa semoga alam ibadah yang kita lakukan di bulan ini diterima oleh Allah sekaligus dapat menemani serta melindungi kita nanti ketika telah sampai saatnya kita berada di alam kubur.

KAJIAN RUTIN MUSLIMAT DEWAN DAKWAH

KAJIAN RUTIN MUSLIMAT DEWAN DAKWAH

Muslimat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Kabupaten Kediri Gelar Kajian Rutin Dua Bulanan

Kediri — Muslimat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kabupaten Kediri kembali melaksanakan kegiatan rutin dua bulan sekali berupa kajian khusus ibu-ibu pada Sabtu, 3 Januari 2026. Kegiatan ini bertempat di kediaman Ibu Syamsyiyah, Jl. Cemp No. 29, Tegalsarri, Tulungrejo, Pare, Kediri, dan dimulai pukul 13.00 WIB hingga selesai.

Acara yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan kehangatan ini dihadiri oleh para anggota dan simpatisan Muslimat DDII dari berbagai wilayah sekitar. Kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an (qiro’atul Qur’an) yang menambah suasana religius dan menenangkan.

Sambutan disampaikan oleh Ketua Muslimat Dewan Dakwah Islamiyah Kabupaten Kediri, Ibu Iswanti. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya menjaga konsistensi dalam menuntut ilmu dan mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah kesibukan sebagai seorang ibu dan anggota masyarakat. Ia juga mengajak seluruh peserta untuk menjadikan majelis ilmu sebagai sarana memperkuat keimanan dan memperbaiki akhlak.

Kajian inti disampaikan oleh Ustadz Bahtiar Khoiruddin dengan tema “Wanita Sejati, Akhlaknya Menyentuh Hati.” Dalam tausiyahnya, beliau menekankan bahwa kemuliaan seorang wanita tidak hanya terletak pada penampilan lahiriah, tetapi pada keindahan akhlak, kelembutan sikap, serta keteguhan dalam menjaga nilai-nilai Islam. Wanita sejati, menurut beliau, adalah sosok yang mampu menjadi penyejuk dalam keluarga, pendidik pertama bagi anak-anaknya, serta teladan dalam lingkungan masyarakat.

Peserta tampak antusias mengikuti kajian, terlihat dari perhatian yang penuh dan sesi tanya jawab yang berlangsung aktif. Banyak di antara mereka yang merasa termotivasi untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah serta akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Acara ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama yang semakin mempererat kebersamaan. Suasana kekeluargaan begitu terasa, mencerminkan semangat persaudaraan yang menjadi tujuan utama kegiatan ini.

Semoga melalui kegiatan rutin ini, Allah SWT menautkan hati-hati para Muslimah, menguatkan ukhuwah Islamiyah, serta menjadikan setiap langkah dalam majelis ilmu sebagai amal jariyah yang penuh keberkahan.

SAFARI RAMADHAN 1447 H KEDUA DEWAN DAKWAH KEDIRI

SAFARI RAMADHAN 1447 H KEDUA DEWAN DAKWAH KEDIRI

Safari Ramadhan 1447 H DDII Kabupaten Kediri Digelar di Musholla Sabilun Najah Tritis Mojo

Kediri – Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kabupaten Kediri kembali melanjutkan agenda Safari Ramadhan 1447 H yang kedua pada Ahad, 1 Maret 2026 M. Kegiatan tersebut berlangsung di Musholla Sabilun Najah, Desa Tritis, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, mulai pukul 17.00 WIB.

Acara diawali dengan pembukaan dan pembacaan kalam Ilahi yang menambah suasana khusyuk di tengah jamaah yang hadir. Sekitar 60 jamaah tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai.

Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Takmir Musholla Sabilun Najah, Ustadz Sunardi. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran rombongan Safari Ramadhan DDII Kabupaten Kediri serta berharap kegiatan ini dapat memberikan motivasi bagi jamaah untuk semakin meningkatkan kualitas ibadah di bulan suci Ramadhan.

Sambutan kedua disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Kabupaten Kediri, Bapak Sigit Subiyantoro. Beliau menekankan pentingnya menjaga persatuan umat serta memperkuat ukhuwah Islamiyah melalui kegiatan-kegiatan dakwah yang menyentuh langsung masyarakat.

Memasuki acara inti, tausiyah disampaikan oleh Ustadz Rofiq. Dalam ceramahnya, beliau mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri, memperkuat iman dan takwa, serta meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama, khususnya kepada anak yatim dan fakir miskin.

Alhamdulillah, seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan penuh kehangatan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan santunan kepada anak yatim dan fakir miskin sebagai bentuk kepedulian dan implementasi nilai-nilai ajaran Islam. Acara ditutup dengan buka puasa bersama yang menjadi momen kebersamaan untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, sehingga satu dengan yang lain saling mencintai, saling membantu, dan saling menghormati.

Diharapkan melalui kegiatan Safari Ramadhan ini, hubungan antara jamaah Musholla Sabilun Najah, masyarakat sekitar, serta pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Kabupaten Kediri semakin kuat dan harmonis dalam membangun kehidupan umat yang lebih baik.

Copyright © 2026 Dewan Dakwah Kediri