Jangan Jadikan Kekurangan Orang Lain sebagai Hiburan: Pesan Islam tentang Menjaga Lisan

Jangan Jadikan Kekurangan Orang Lain sebagai Hiburan: Pesan Islam tentang Menjaga Lisan

Jangan menghina orang lain dalam Islam merupakan salah satu prinsip penting dalam menjaga akhlak dan kehormatan sesama Muslim. Islam melarang umatnya mengolok-olok, merendahkan, dan menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan hiburan. Bercanda memang diperbolehkan, tetapi tidak boleh dilakukan dengan menyakiti hati, membuka aib, atau mempermalukan seseorang. Di era media sosial, kebiasaan mengejek bahkan dapat menyebar melalui komentar, tangkapan layar, video, dan pesan berantai. Karena itu, memahami larangan menghina orang lain dalam Islam sangat penting agar kita mampu menjaga lisan, menghormati sesama, dan membangun hubungan yang dilandasi kasih sayang.

1. Dalil Al-Qur’an tentang Larangan Menghina Orang Lain dalam Islam

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang menertawakan bentuk tubuh, kondisi ekonomi, pekerjaan, keluarga, masa lalu, atau keterbatasan orang lain. Perbuatan tersebut sering dianggap sebagai candaan biasa, terlebih ketika banyak orang ikut tertawa. Padahal, Islam mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok. Jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, karena boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik dari perempuan yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (QS. Al-Hujurat: 11).

Ayat tersebut menjadi landasan penting tentang larangan menghina orang lain dalam Islam. Allah SWT mengingatkan bahwa orang yang kita anggap rendah belum tentu lebih buruk daripada diri kita. Bisa jadi, ia memiliki ketakwaan, keikhlasan, dan amal kebaikan yang lebih tinggi di sisi Allah.

Kita hanya mengetahui apa yang terlihat, sedangkan Allah mengetahui isi hati dan perjalanan hidup setiap hamba-Nya. Oleh karena itu, jangan menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan tertawaan. Bisa jadi, orang yang kita hina sedang berjuang memperbaiki diri, sementara kita sendiri belum menyadari kekurangan yang ada dalam diri.

2. Hadis tentang Larangan Merendahkan Sesama Muslim

Larangan menghina orang lain dalam Islam juga ditegaskan melalui hadis Rasulullah ﷺ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap melakukan keburukan apabila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.”

Perawi sahabat: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Sumber: HR. Muslim, Shahih Muslim, no. 2564.

Hadis ini mengajarkan bahwa merendahkan orang lain bukanlah perkara sepele. Seseorang tidak perlu melakukan penghinaan besar untuk menunjukkan buruknya akhlak. Sikap memandang rendah sesama pun merupakan perbuatan yang harus dihindari.

Jangan sampai kita merasa hebat karena mampu membuat banyak orang tertawa, padahal tawa tersebut lahir dari penghinaan terhadap seseorang. Kemuliaan seorang Muslim seharusnya terlihat dari kemampuannya menjaga kehormatan orang lain, bukan dari kepandaiannya mencari kekurangan sesama.

3. Menjaga Lisan dan Menghindari Candaan yang Menyakiti

Islam tidak melarang semua bentuk humor. Bercanda dapat menghangatkan hubungan, mengurangi ketegangan, dan menghadirkan kebahagiaan. Namun, candaan tetap harus berada dalam batas adab dan tidak merendahkan martabat orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Perawi sahabat: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Sumber: HR. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6018; HR. Muslim, Shahih Muslim, no. 47.

Hadis ini mengajarkan bahwa perkataan seorang Muslim semestinya membawa kebaikan. Jika suatu ucapan berpotensi menyakiti, mempermalukan, atau merendahkan orang lain, diam dapat menjadi pilihan yang lebih bijaksana.

Sebelum melontarkan candaan, tanyakan kepada diri sendiri: apakah ucapan ini akan mempererat hubungan atau justru melukai perasaan seseorang? Jika sebuah lelucon hanya terasa lucu ketika seseorang dipermalukan, mungkin sudah saatnya kita menghentikannya.

4. Bahaya Ghibah dan Menyebarkan Aib Menurut Islam

Selain mengolok-olok, membicarakan kekurangan orang lain juga dapat termasuk ghibah atau menggunjing. Allah SWT berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Rasulullah ﷺ menjelaskan pengertian ghibah dalam hadis berikut:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

Artinya: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.”

Perawi sahabat: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Sumber: HR. Muslim, Shahih Muslim, no. 2589.

Hadis tersebut menjelaskan bahwa membicarakan sesuatu yang benar tentang seseorang pun dapat termasuk ghibah apabila ia tidak menyukainya. Jika informasi yang disampaikan tidak benar, perbuatan tersebut dapat menjadi kebohongan atau fitnah yang lebih berat.

Karena itu, jangan menganggap suatu cerita boleh disebarkan hanya karena isinya benar. Berhati-hatilah ketika mengirim tangkapan layar percakapan pribadi, menyebarkan video yang mempermalukan, atau menirukan cara bicara seseorang untuk mengundang tawa. Menjaga lisan berarti mengetahui kapan harus berbicara dan kapan sebaiknya menahan diri.

5. Jangan Menghina Orang Lain karena Tidak Semua Senyum Berarti Bahagia

Ketika seseorang menjadi bahan candaan, ia mungkin ikut tertawa. Namun, tidak semua senyum berarti seseorang benar-benar merasa nyaman. Ada orang yang tertawa agar tidak dianggap lemah, ada yang memilih diam karena takut dicap terlalu sensitif, dan ada pula yang terlihat biasa saja di hadapan orang lain tetapi terus memikirkan perkataan tersebut ketika sendirian.

Jangan menghina orang lain hanya karena kita menganggap mereka tidak keberatan dengan candaan tersebut. Kita tidak selalu mengetahui perasaan seseorang. Kekurangan fisik, kondisi ekonomi, latar belakang keluarga, pekerjaan, dan masa lalu bukanlah sesuatu yang pantas dijadikan bahan penghinaan.

Cobalah membayangkan jika kesalahan dan kekurangan kita sendiri disebarkan, direkam, lalu ditertawakan oleh banyak orang. Tentu kita berharap orang lain memperlakukan kita dengan hormat. Maka, berikanlah penghormatan yang sama kepada sesama.

6. Cara Memperbaiki Kesalahan Setelah Menghina Orang Lain

Setiap manusia dapat melakukan kesalahan. Namun, orang yang baik adalah orang yang bersedia menyadari kesalahan dan memperbaiki dirinya. Jika pernah menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan, jangan mencari pembenaran dengan mengatakan, “Aku kan cuma bercanda.” Kalimat tersebut dapat membuat orang yang terluka merasa bahwa perasaannya tidak dihargai.

Ada beberapa langkah untuk memperbaiki keadaan. Pertama, hentikan candaan yang merendahkan dan jangan mengulanginya. Kedua, akui kesalahan dengan jujur tanpa menyalahkan orang yang tersinggung. Ketiga, mintalah maaf dengan tulus. Keempat, hentikan penyebaran cerita atau tangkapan layar yang mempermalukan seseorang dan upayakan memperbaiki dampaknya. Kelima, buktikan permintaan maaf melalui perubahan perilaku.

Kita dapat menyampaikan permintaan maaf dengan kalimat sederhana: “Ucapanku tidak pantas dan mungkin telah melukaimu. Aku minta maaf. Aku akan belajar menjaga perkataan agar tidak mengulanginya.” Jangan menunggu sampai seseorang benar-benar terluka untuk mulai belajar menjaga lisan.

7. Menjaga Kehormatan Bukan Berarti Menutupi Kezaliman

Menjaga aib dan kehormatan seseorang tidak berarti kita harus diam terhadap semua bentuk kesalahan. Jika terjadi kekerasan, penipuan, pelecehan, atau pelanggaran hak, kita boleh dan perlu mencari pertolongan serta melaporkannya kepada pihak yang tepat.

Melaporkan tindakan yang membahayakan demi melindungi korban berbeda dengan menyebarkan cerita untuk mempermalukan seseorang atau menjadikannya bahan hiburan. Sampaikan informasi seperlunya kepada pihak yang berwenang atau orang yang dapat membantu menyelesaikan masalah. Hindari menyebarkannya kepada orang-orang yang tidak berkepentingan. Dengan demikian, kita tetap dapat menjaga kehormatan manusia tanpa mengabaikan keadilan dan keselamatan.

8. Cara Menjaga Lisan agar Tidak Menghina Orang Lain

Menjaga lisan bukan hanya tentang menghindari kata-kata kasar, tetapi juga belajar menghadirkan rasa aman dalam hubungan dengan sesama. Ketika melihat seseorang kurang terampil, bantulah tanpa mempermalukan. Ketika seseorang salah berbicara, koreksilah dengan cara yang baik. Ketika mengetahui masa lalu seseorang, ingatlah bahwa manusia memiliki kesempatan untuk berubah.

Ketika orang lain mulai mengejek seseorang, jangan ikut menambahkan bahan tertawaan. Alihkan percakapan, berikan nasihat dengan lembut, atau tinggalkan pembicaraan jika tidak mampu menghentikannya. Ketika mengetahui kekurangan orang lain, ingatlah bahwa kita sendiri memiliki kekurangan yang mungkin tidak diketahui siapa pun.

Kemuliaan tidak tumbuh dengan mengecilkan manusia lain. Kemuliaan tumbuh ketika seseorang mampu menjaga lisannya, merendahkan hatinya, dan menggunakan kekuatannya untuk melindungi kehormatan sesama.

9. Muhasabah: Sudahkah Kita Menjaga Lisan?

Mari bertanya kepada diri sendiri: apakah kita pernah menjadikan bentuk tubuh atau kondisi ekonomi seseorang sebagai bahan candaan? Apakah kita pernah menyebarkan cerita pribadi yang seharusnya dijaga? Apakah kita ikut tertawa ketika orang lain dipermalukan? Apakah kita menganggap seseorang tidak terluka hanya karena ia ikut tersenyum? Dan apakah kita berani meminta maaf ketika menyadari bahwa perkataan kita telah menyakiti orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita merasa paling buruk, melainkan untuk membantu kita memperbaiki diri. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar menjadi lebih baik. Mulailah dari hal sederhana: pikirkan dampak perkataan sebelum mengucapkannya, tahan diri dari menyebarkan aib, dan biasakan memberikan nasihat tanpa merendahkan.

Jangan sampai kita memperoleh hiburan sesaat, tetapi meninggalkan luka yang lama dalam hati orang lain.

10. Afirmasi Islami: Bertekad Menjaga Lisan dan Menghormati Sesama

Mari kita tanamkan tekad dalam hati: “Aku akan menjaga lisanku, menghormati kekurangan orang lain, tidak menyebarkan aib, dan tidak membangun kebahagiaan di atas rasa malu sesama. Aku ingin menjadi pribadi yang membawa ketenangan, bukan menambah luka. Jika pernah menyakiti, aku akan belajar meminta maaf dan memperbaiki diri.”

Semoga Allah SWT menjaga lisan kita dari ejekan, ghibah, fitnah, dan perkataan yang melukai. Semoga Allah melembutkan hati kita agar mampu menghormati sesama, mengampuni kesalahan kita, serta membimbing kita untuk menggunakan perkataan sebagai jalan kebaikan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 🤍

Kesimpulan

Jangan menghina orang lain dalam Islam karena setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga. Al-Qur’an melarang tindakan saling mengolok-olok, sedangkan hadis Rasulullah ﷺ mengingatkan umat Islam agar tidak merendahkan sesama dan membiasakan perkataan yang baik. Bercanda tetap diperbolehkan selama tidak melanggar batas, menyakiti, atau merendahkan martabat orang lain. Jika pernah melakukan kesalahan, berhentilah, mintalah maaf, dan perbaiki perilaku.

Ingatlah, kita tidak harus merendahkan orang lain agar terlihat lebih tinggi. Jagalah lisan, muliakan sesama, dan jadilah alasan seseorang merasa dihargai, bukan dipermalukan.

Artikel kami sebelumnya

https://dewandakwahkediri.com/2026/10/09/cara-istri-salehah-mendukung-suami/

Kunjungi Pasar Dewan Dakwah Kediri

https://pasarkediri.biz.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Dewan Dakwah Kediri