
Nasionalisme kemerdekaan dan nilai ketauhidan merupakan tiga pilar fundamental yang saling melengkapi dalam sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia. Dalam pembacaan sejarah modern, nasionalisme sering kali dipandang secara terpisah dari spiritualitas keagamaan. Padahal, jika kita menelaah kembali rekam jejak para pemikir besar pendiri bangsa, seperti Tan Malaka, ketiga aspek ini memiliki benang merah yang sangat erat dan saling menguatkan.
Membaca ulang pemikiran Tan Malaka dalam kerangka tauhid memberikan perspektif baru yang relevan bagi generasi muda dalam mengisi kemerdekaan saat ini.
Nasionalisme sebagai Wujud Pengabdian Kemanusiaan
Bagi Tan Malaka, nasionalisme bukanlah sekadar romantisme kebangsaan, melainkan alat perjuangan untuk membebaskan rakyat dari belenggu imperialisme dan penindasan. Gagasan ini sejalan dengan spirit ajaran Islam yang menolak segala bentuk perbudakan antarmanusia.
Dalam perspektif tauhid, pengakuan akan keesaan Tuhan (Laa ilaaha illallah) secara otomatis menggugurkan segala bentuk penghambaan kepada sesama makhluk. Oleh karena itu, membela tanah air dan membebaskan rakyat dari kedzaliman adalah manifestasi nyata dari nilai ketauhidan yang memerdekakan jiwa dan raga.
Makna Kemerdekaan Hakiki dalam Pemikiran Kebangsaan
Kemerdekaan yang diperjuangkan oleh Tan Malaka mencakup dua dimensi utama yang sangat relevan dengan prinsip syariat:
- Kemerdekaan Fisik dan Kebijakan: Bebas dari dominasi asing serta memiliki kedaulatan penuh atas pengelolaan sumber daya alam dan arah politik bangsa.
- Kemerdekaan Berpikir dan Jiwa: Bebas dari mentalitas inferior (inferiority complex), kebodohan, dan dogma pasif yang menutupi akal sehat.
Sifat independen ini beririsan langsung dengan konsep Hurriyyah (kebebasan) dalam Islam, di mana seorang muslim hanya tunduk kepada kebenaran dan keadilan Ilahi, bukan pada ketakutan terhadap penguasa yang zalim.
Sintegrasi Nilai Ketauhidan dalam Perjuangan Modern
Di era modern yang penuh dengan tantangan disrupsi dan globalisasi, mereaktualisasikan gagasan Tan Malaka bersama prinsip ketauhidan dapat dilakukan melalui langkah-langkah strategis:
- Integritas dan Moralitas Publik: Menjadikan tauhid sebagai fondasi etis untuk melawan praktik korupsi, kolusi, dan penyalahgunaan kekuasaan.
- Kemandirian Ekonomi Nasional: Membangun kedaulatan pangan, energi, dan teknologi berbasis kekuatan dalam negeri demi kesejahteraan rakyat banyak.
- Keadilan Sosial yang Merata: Memastikan bahwa hasil-hasil kemerdekaan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya kelompok yang lemah (mustadh’afin).
Menjaga Spirit Perjuangan bagi Generasi Muda
Memahami hubungan antara nasionalisme kemerdekaan dan nilai ketauhidan membuka kesadaran bahwa mencintai bangsa dan memperjuangkan keadilan adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Dengan meneladani keberanian pemikiran Tan Malaka dan memegangnya dalam koridor tauhid, generasi muda Indonesia dapat terus menjaga nyala api kemerdekaan yang bermartabat dan berkeadilan.
Artikel kami sebelumnya
https://dewandakwahkediri.com/2026/10/07/kesejahteraan-umat-dan-ekonomi-islam/
Kunjungi Pasar Dewan Dakwah Kediri











